Tampilkan postingan dengan label Perjalanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perjalanan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 08 Juli 2020

Olahraga dulu dan kini

Salah satu cerita perjalanan juga berhubungan dengan perjalanan bentuk tubuh. Jadi kali ini aku ingin sharing pengalaman terkait berat badan dan kebiasaan olahraga selama ini.

Sejak jaman kuliah dulu, atau sekitar 15 tahunan yang lalu aku selalu suka berolahraga melalui organisasi pecinta alam kampusku. Olahraga buatku adalah sesuatu yang dilakukan di luar ruangan (di alam) dengan skill tertentu seperti, arung jeram, panjat tebing, hiking/mountaineering, cycling, caving, ataupun diving. Jadi olahraga seperti lari atau jogging itu aku anggap hanya sebagai pemanasan sebelum berolahraga. Hampir setiap minggu aku memiliki kegiatan keluar kota diakhir minggu untuk melakukan kegiatan di alam terbuka. Dan dengan padatnya kegiatan yang ada aku pernah memiliki jadual kegiatan selama 15 hari non-stop untuk melakuan latihan, naik gunung, panjat tebing dan penelurusan goa di empat lokasi berbeda (Bandung, Padalarang, Jogjakarta dan Sukabumi). Cerita perjalanan ini sudah pernah aku tulis di blog ini dengan judul 14-30 Juni 2007. 

Hobi berkegiatan di alam terbuka membuat tubuh selalu fit dan terhindar dari stress. Pernah suatu ketika aku masih menjadi anggota muda di ASTACALA dan melakukan perjalanan ke Gn. Salak dengan beberapa rekan senior di organisasi. Saat itu aku mengikuti kegiatan tersebut lebih karena ada unsur merasa "gak enak"bila tidak ikut sebab selain ingin aktif di organisasi aku juga selalu kepikiran dengan tugas-tugas perkuliahan yang banyaknya segambreng. Sehingga di gunung sepertinya aku terlihat merenung dan sedikit terlihat banyak berpikir. Salah seorang kakak senior pun bertanya, 

"On, kenapa lu?"
"Ada tugas belum selesai kak"kataku dengan sedikit resah gundah gulana.

Kakak senior kala itu bukannya berempati namun dijawab santai, 

"On, kita ini naik gunung bukan untuk menyelesaikan masalah di kota. Yang ada di kota tinggalin di sana, kita disini untuk naik gunung"

Aku berpikir, benar juga ya, dengan memikirkan masalah di kota saat berada di gunung itu tidak menyelesaikan masalah di kota, dan sejak saat itu gunung, sungai, goa dan tebing menjadi tempat aku bermain, berolahraga dan mencintai alam dengan lepas dan bebas. Balik ke kota baru aku menyelesaikan masalah di kota. Kebiasaan berolahraga ini selalu aku usahakan untuk terus dilakukan walau telah lulus dan bekerja. Aku sempat mengganti olahraga dengan bersepeda di Jakarta dan sesekali melakukan scuba diving sebab waktu libur dan cuti ketika bekerja sangat terbatas bila aku ingin tetap melakukan hobi seperti dahulu kala. 

Pada tahun 2010, aku bersama teman-teman ASTACALA melakukan perjalanan ke Gn. Semeru, dan aku memutuskan untuk berhenti naik gunung setelahnya. Aku merasa naik gunung sudah bukan "my things" lagi setelah bekerja. Sangat sulit mencari waktu dan sangat lelah rasanya karena badan sudah tidak terbiasa seperti dahulu kala. Namun masih tersimpan satu gunung yang ingin dan berharap suatu saat nanti dapat aku kunjungi, Kilimanjaro.

Hari demi hari dan bulan berganti tahun, aku kini sudah sangat jarang berolahraga. Bahkan untuk sekedar bersepeda juga sudah hampir tidak pernah. Pekerjaan saat ini mengarahkanku untuk lebih banyak melakukan perjalanan dari satu kota ke kota lain sehingga seakan tidak ada lagi tenaga untuk dapat aku sisihkan dalam berolahraga. Entah apa yang terjadi pada dunia ini, di tahun ini semua seperti terhenti dan seluruh dunia tidak dapat melakukan perjalanan karena adanya pandemi Covid19. Lucu karena pandemi ini aku melakukan sesuatu yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Aku mengakui bahwa lari adalah olahraga dan kini aku terobsesi untuk melakukan jogging setiap hari untuk latihan dan mungkin pada waktunya aku ingin mengikuti marathon.

Tidak banyak yang dapat aku lakukan selama masa pandemi, lari di tempat Gym atau di pinggir pantai ternyata membuat aku lebih bahagia. Ah, ternyata diri ini memang tidak bisa lepas dan jauh dari yang namanya latihan dan berkeringat! Pandemi ini mengajarkan aku untuk lebih menghargai setiap bentuk olahraga dan menjadi langsing kembali tanpa lemak jahat. ha ha ha! Terima kasih semesta atas kasih sayangmu padaku. xoxo


Sabtu, 27 Juli 2013

Kepulauan Seribu, Pantai – Pantai Menawan di Seberang Jakarta


Ibu kota Negara RI, DKI Jakarta, merupakan kota metropolitan yang sangat padat dan sibuk setiap harinya. Kemacetan dan polusi menjadi makanan sehari-hari masyarakat di kota ini. Bagi orang yang baru pertama kali menginjakkan kaki di Jakarta, bisa jadi mereka tidak akan menyangka bahwa tak jauh dari kebisingan dan hiruk pikuk tersebut terhampar ratusan pulau yang memiliki pantai – pantai yang sangat menawan. Pulau – pulau tersebut membentuk gugusan kepulauan yang dikenal dengan nama kepulauan seribu. Kepulauan seribu sendiri merupakan kabupaten administrasi di DKI Jakarta. Meskipun dinamakan kepulauan seribu namun hanya terdapat sekitar 342 pulau di gugusan ini dan hanya beberapa pulau yang berpenghuni. Kepulauan ini terletak disebelah utara Jakarta dan tepat berhadapan dengan teluk Jakarta. (sumber)
Pulau Pramuka
Pulau Pramuka merupakan pusat pemerintahan dari kabupaten administrasi kepulauan seribu. Akses untuk mengunjungi kepulauan seribu dapat ditempuh melalui beberapa cara, yaitu Marina Ancol, Muara Angke, Tanjung Pasir dan Muara Baru. Beberapa kali mengunjungi kepulauan ini, saya baru pernah mencoba transportasi melalui Muara Angke dan Tanjung Pasir. Setahun yang lalu, tepatnya sekitar bulan February 2012 saya dan lima orang teman bertolak dari Bandung menuju dermaga Muara Angke, Jakarta Utara. Dua diantaranya adalah warga asing, Gunnar dan Allison, dimana kita biasa menyebutnya bule.  Gunnar adalah teman kuliah saya yang sedang mengikuti program pertukaran pelajar selama satu semester dari Jerman, sedangkan Allison berasal dari Amerika yang sedang melakukan magang terkait tugas akhirnya di Bali. Allison datang bersama teman saya yang juga adalah instruktur diving dari Bali. Kami berempat berencana ingin melihat keindahan bawah laut kepulauan seribu dengan menyelam sedangkan dua teman yang lain akan melakukan snorkeling.
Kapal Motor Pulau Pramuka
Diving dan Snorkeling daya tarik Kep. Seribu

Pemberangkatan kapal dari Muara Angke rutin setiap hari pada pukul 6 dan pukul 13.00. Sekitar tiga jam waktu yang kami perlukan untuk mencapai Pulau Pramuka dari Muara Angke. Sesampainya disana, telah menunggu seseorang yang menjemput kami ke penginapan. Jadi apabila hendak berlibur ke kepulauan seribu, terlebih dahulu memesan tempat penginapan atau memilih paket wisata disana. Wisatawan dapat memilih berbagai paket wisata yang disediakan ataupun hanya sekedar ingin menyewa penginapan. Paket tersebut biasanya berupa paket wisata mengunjungi beberapa pulau, makan makanan laut dan snorkeling. Terdapat pula paket diving, seperti yang saya ambil saat itu. Mayoritas rumah di Pulau Seribu dapat digunakan untuk disewakan kepada para wisatawan dan harganya sangat terjangkau.

Hamparan laut yang berwarna biru jernih menyambut para pengunjung yang baru turun dari kapal motor yang membawa kami. Terlihat jelas ikan-ikan berenang di pantai karena jernihnya air laut di pantai ini. Pulau Pramuka biasanya digunakan para pengunjung sebagai “base” dan dari sini dapat menggunakan kapal kecil untuk mengunjungi beberapa pulau yang lain dan mencari lokasi snorkeling maupun diving. Meskipun visibility saat penyelaman tidak sebaik di Bali, namun teman saya sangat menyukai liburannya di Kepulauan Seribu. Mereka tidak menyangka, disekitar kota metropolitan seperti Jakarta terdapat gugusan pulau yang memiliki pantai yang sangat eksotis. Ditambah lagi, biaya yang mereka keluarkan untuk menikmati paket menyelam sangat murah bila dibandingkan dengan Bali.

Keesokan harinya, setelah kami selesai melakukan penyelaman yang terakhir dan bersiap untuk kembali ke Jakarta, saya dan Gunnar menyempatkan diri untuk melihat tempat pembiakan tukik di Pulau Pramuka. Terdapat banyak sekali tukik yang bila sudah tiba waktunya akan dilepaskan kembali ke lautan.
Penangkaran Penyu Pulau Pramuka
Mungkin hanya dua hari yang kami habiskan di sana, namun keindahan kepulauan seribu akan selalu ada dalam ingatan kami, sehingga setiap waktu apabila ingin sedikit menjauh dari kemacetan, hiruk pikuk dan polusi kota Jakarta, berwisata ke Kepulauan Seribu adalah pilihan yang sangat menarik.

Foto - foto: Vonny Pinontoan (Penulis)


Minggu, 30 Juni 2013

Hello South Africa!

Rasanya sudah lama sekali saya tidak menyempatkan diri untuk menulis, sekiranya tulisan ini bisa menjadi penyegar otak dan jemari saya yang sudah lama tidak menulis.

Beberapa hari yang lalu saya mendapatkan kesempatan untuk menjadi panitia "The 5th Indonesia International Conference on Innovation, Entrepreneurship and Small Business" di Bandung tanggal 24-27 Juni 2013. Disana saya bertemu dua orang peserta, perempuan dan pria, yang berasal dari South Africa, meskipun demikian mereka berkulit putih dan merupakan keturunan Jerman. Mereka adalah sosok paruh baya yang sangat ramah. Saya sangat bersemangat menceritakan bahwa saya sangat ingin ke Africa dan mendaki gunung Kilimanjaro yang menjadi mimpi saya. Tak disangka, ibu paruh baya tersebut juga berkeinginan yang sama, sehingga kami pun bertukar kontak dan berharap suatu saat kami akan bertemu lagi, dan semoga itu di Kilimanjaro. 

Keesokan harinya ibu tersebut menghampiriku dan bertanya, 
"Vonny, will you join the tour tomorrow?"
"No, mam..I'm not going tomorrow"
"Owh, I have a jacket, a warm jacket, that I brought from South Africa and I want to give it to you if you want."
"I love to.." 
"Ok, then wait for me, I'll pick it up and brought here for you. You can use it when you climb Kilimanjaro"

Terharu dan senang sekali, Jacket yang diberikan adalah Jacket universitas, North-West University, Potchefstroom campus, Engineering Faculty. Seakan ada korelasi dengan background pendidikan saya yang juga berasal dari fakultas teknik. 

Belum berkesempatan ke Africa, dapet Jacket dari sana dulu, semoga semakin cepat mimpi untuk menyapa Uhuru menjadi kenyataan.

Minggu, 05 Agustus 2012

Manusia dan Tebing

Dengan dua motor bebek, empat orang bergerak dari sekretariat Astacala ke lokasi panjat tebing di Citatah, Sabtu 28 April 2012. Tebing 125, demikian namanya dikenal dikalangan para pemanjat. Tebing ini merupakan kawasan karst di wilayah Citatah, Padalarang, Jawa Barat.  Selain menggunakan kendaraan pribadi, lokasi ini dapat kita capai dengan menggunakan bus jurusan padalarang, harganya sangat terjangkau, cukup Rp. 5 ribu kita sudah dapat menikmati perjalanan yang biasanya ditembuh sekitar 1.5 jam dengan bus ber-AC. Apabila menggunakan bus biasa tanpa AC, harganya Rp. 3 ribu. 

Karena lokasinya yang mudah dijangkau, lokasi ini menjadi favorit dan tidak pernah sepi oleh penggiat panjat tebing. Tak hanya dari Bandung atau Jawa barat, terkadang juga terdapat beberapa pemanjat dari luar daerah. Malam itu kami sampai sekitar pukul 9 malam, setelah sempat diguyur hujan deras yang memaksa kami harus berteduh di Cimahi. Disana terdapat dua saung yang cukup besar yang biasa ditempati para pemanjat melewati malam. Tidak banyak yang berubah dari kawasan ini, hanya saja jalan masuk ke lokasi tebing yang sudah digeser dan terdapat beberapa cerita mengenai konflik yang sedang terjadi antara para pecinta alam dan warga sekitar. 

Pabrik Marmer
Kawasan karst di Citatah sudah menjadi kawasan pengeboman sebagai bahan baku dari pabrik pembuatan marmer yang sangat besar. Kegiatan yang sudah berlangsung sekian lama ini membuat gunung karst di Citatah menjadi menipis setiap tahunnya. Dentuman bom kerap kami dengar berkali-kali, dan tibalah saat ini, saat tebing 125 juga akan dihancurkan. Hal ini tentu saja menjadi konflik yang alot antara para pecinta alam dan warga yang mencari nafkah di pabrik. Sebuah spanduk yang menolak penghancuran tebing dibentangkan, tertera nama kelompok pecinta alam yang menolaknya. Sesuatu hal yang ironis, sebab seharusnya alam tidak untuk diperebutkan. Alam haruslah menjadi penengah dan kebahagiaan bagi setiap manusia. Sikap manusia yang serakah dan egoislah yang kerap menjadikan alam sebagai ajang konflik tak berkesudahan.

Malam itu terasa sangat istimewa untukku. Sudah sangat lama sejak terakhir kali saya bermain ke tebing, mungkin ada sekitar 5 tahun yang lalu. Terdapat sebuah pabrik marmer dengan bongkahan marmer yang berserakan di halaman pabrik tepat dibawah saung yang kami tempati menjadikannya sebagai sumber penerangan tambahan selain lilin dan sinar bulan. Suara jangkrik menemani kami sepanjang malam dan suara tawa dari permainan poker malam ini seakan membawaku kembali ke masa lalu. Masa dimana saya belajar mengenal alam, masa dimana saya mengerti alam, dan masa dimana saya terhanyut akan keindahan alam liar. Memang, ini hanya di Citatah, yang masih sangat dekat dengan kota, namun sudah cukup menghibur kerinduan ini.

Bermain Poker
Materi pengenalan self rescue merupakan inti dari kegiatan kami kali ini. Self rescue merupakan materi untuk divisi peminatan Rock Climbing yang diikuti oleh Amin sebagai peserta, Babi sebagai instruktur, Arnan sebagai korban, dan saya sebenarnya cuma ingin jalan-jalan namun terjebak harus ikut membantu instruktur untuk materi. Ketika berjalan mendekati lokasi tebing panjat, saya melihat sudah sangat banyak pemanjat yang  memasang jalur. Ada yang dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) hingga Universitas Tarumanegara (UnTar), Jakarta. 

Instruktur - Rescuer - Korban 
Sebuah jalur artifisial sedang dibuat oleh seorang pemanjat wanita disebelah lokasi tempat kami memasang instalasi materi self rescue. Jalur ini sebenarnya adalah jalur yang umum digunakan dan merupakan jalur yang cukup mudah untuk pemula. Pemanjat ini menjadi menarik perhatian kami sebab selain karena jalur yang memang berseberangan langsung dengan lokasi kami, beberapa kali terdengar teriakan panduan dari rekan-rekannya di bawah dan juga dari puncak jalur pemanjatan. 

“Sling nya habis, tinggal satu” teriak si pemanjat wanita yang saat itu posisinya berada sekitar satu meter diatas sling runner terahir dan sekitar dua meter dibawah puncak jalur. Sebagai seorang pemanjat tebing, apa yang anda lakukan apabila pengaman anda habis beberapa meter di bawah puncak jalur? Sebagai seseorang yang sudah cukup lama (ehem..) menjadi penggiat di alam terbuka saya cuma akan memberikan tiga kata: "safety procedure first". Pikirkanlah apa yang menjadi safety procedure yang sudah kalian pelajari, itu yang harus dilakukan.

Suasana tebing 125
Tiba-tiba terlihat seseorang dari puncak jalur yang merupakan teman pemanjat menurunkan sebuah webbing kearah pemanjat. Webbing tersebut diraih oleh kedua tangan pemanjat wanita tersebut. Pemandangan yang cukup aneh, itu yang saya rasakan. Saya kemudian memutuskan untuk turun dari lokasi instalasi materi dan memastikan jalur tali aman dari bawah. Saat sedang berbincang dengan teman setim pemanjat, terdengar kepanikan dan seketika saat saya melihat kearah pemanjat, kepalanya sudah berada dibawah, satu meter dibawah sling runner terakhir. Pemanjat tersebut terjatuh, kepalanya membentur batu, namun dia masih sadar. Terlihat dia masih dapat menggerakkan leher dan matanya masih terbuka. Dia terjatuh sekitar 3 meter dari lokasi terakhir. Pemandangan ini terlihat sangat ironi. Masih teringat saat pemanjat ini meminta turun karena dia sudah kelelahan dan kehabisan sling pengaman namun tidak diindahkan oleh teman-temannya yang kerap menyemangatinya untuk menggapai puncak yang sebentar lagi dapat dia raih.

Pemanjat wanita itu berhasil di-rescue dengan selamat dan untungnya keadannya tidaklah parah. Disini saya tidak akan membahas bagaimana mereka me-rescue atau perbedaan apa yang cukup crucial dari teknik back-up belay ataupun teknik memanjat mereka. Saya hanya ingin berbagi kisah bahwa  kecelakaan saat bermain di alam adalah hal yang pasti dapat terjadi dan harus dapat  diantisipasi dengan sigap dan benar. Namun menghindari kecelakaan adalah hal yang lebih penting. Ini yang kadang diabaikan oleh para penggiat olahraga alam terbuka. Mereka mementingkan skill, gaya dan fun namun safety procedure kerap terabaikan. 

Beruntung saya besar dan belajar mengenal alam bersama Astacala, yang sangat mengedepankan safety procedure. Sebuah kegiatan tidak boleh dijalankan apabila safety procedure belum komplit. Persiapan yang matang dan cenderung lama karena harus memastikan semuanya aman itu lebih baik daripada bergerak cepat namun kemudian harus di-rescue. Yah kami masih menganut nasehat orang tua jaman dulu, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian, perisapan boleh lama agar kemudian senang sampai akhir.

Jumat, 15 April 2011

Center of Interest di Tanah Borneo

Matahari beranjak pergi dari peraduannya, ketika pesawat kami mendarat dengan mulus di Bandar Udara Internasional Sepinggan, Balikpapan, Kalimantan Timur. Hamparan laut dan desiran ombak menyambut kedatangan para penumpang yang turun dari pesawat.

Sekilas bandar udara ini mirip dengan Bandar Udara Internasional Ngurah Rai, Bali. Landasan menghadap laut lepas dengan gedung bandara yang tidak begitu besar namun bertaraf internasional. Bedanya, disini tidak terlihat canang (sesajen) dan patung yang memakai kain poleng (kain motif kotak-kotak hitam putih) khas Bali. Tentu saja, sebab ini adalah tanah Borneo. Suasana etnik khas dayak dan banjar yang menghiasi bandar udara ini. Seperti pilar-pilar gedung yang dibalut kayu ulin dan diukir motif khas dayak menjadi pemandangan unik tersendiri.
Meskipun tidak menyandang sebagai ibukota provinsi, Balikpapan merupakan kota yang paling maju di Kalimantan Timur. Bahkan taraf hidup di kota yang memiliki luas 503,3 km² ini sudah melampaui Jakarta, ibukota Negara RI. Perekonomian dan taraf hidup masyarakat Balikpapan menjadi sangat tinggi karena disokong oleh banyaknya industri minyak dan gas bumi yang beroperasi. Walaupun demikian, tidak ada ciri khas khusus di kota yang memiliki julukan kota minyak ini. Kota yang heterogen dan majemuk itulah Balikpapan. Pendatang dari berbagai suku datang menaruh harapan dan masa depan mereka. Bukan hanya itu, para pekerja asing juga ikut-ikutan mengais rejeki dan mendulang harta dari hasil bumi Borneo.

Keheterogenan dan memiliki tujuan hidup yang sama yaitu bekerja, membuat kota ini tumbuh bersahabat, tertib dan teratur antar masyarakat. Tidak pernah ada demonstrasi massa ataupun kerusuhan seperti yang terjadi di berbagai kota lain di Indonesia. “Di sini tidak pernah ada demo, semua sibuk bekerja. Kalaupun ada mahasiswa, mereka adalah mahasiswa yang juga bekerja. Mereka tidak punya waktu untuk berdemo kepada pemerintah. BBM atau bahan pangan naik berapa kali lipatpun tidak akan berpengaruh di Balikpapan,” kata Tajudin, salah seorang teman yang bekerja di Kutai Kartanegara.

Pantai Kemala
Walau tidak punya sesuatu yang khas, namun Balikpapan mampu menjadi center of interest di tanah Borneo. Banyaknya pendatang dan pebisnis baik asing maupun lokal yang meramaikan Bandar udara Internasional Sepinggan setiap hari membuat perputaran perekonomian sangat besar. Tak heran para pedagang dari segala penjuru bumi Borneo berlomba-lomba membuka usaha bisnis di Balikpapan. Sebagai contoh, berbagai kerajianan tangan khas Kalimantan dapat dengan mudah kita temui. Tidak hanya itu, bagi para penyuka perhiasan batu mulia tidak perlu repot ke Martapura, kota penghasil berlian di Banjarmasin. Cukup berkunjung ke Balikpapan, hasrat tersebut dapat dengan mudah terpenuhi.

Pasar Impres Kebun Sayur

Tidak terlihat seperti pasar sayur pada umumnya. Tidak ada bakul yang dipenuhi sayur mayur, juga tidak ada buah-buahan dan timbangan. Etalase kaca berjejer rapi dengan berbagai jenis perhiasan di dalamnyalah yang menyambut kedatangan para pengunjung. Berbagai jenis kerajinan tangan bernuansa etnik Dayak dan Banjar terpajang rapi disalah satu sudut pasar seakan ikut menyapa para pengunjung yang tidak pernah sepi setiap hari.

Inilah Pasar Impres Kebun Sayur, pusat oleh-oleh terlengkap di Balikpapan. Di sini tersedia segala bentuk oleh-oleh khas Kalimantan, baik kerajinan tangan hingga perhiasan batu mulia. Namanya boleh pasar, namun bisa dijamin kebersihan lingkungannya. Selain karena memiliki koleksi oleh-oleh yang lengkap, kebersihan lingkungan ini juga yang mungkin mambuat para pengunjung mrasa nyaman dan betah berlama-lama. Tak jarang pembeli bisa berjam-jam menghabiskan waktu.

Di salah satu sudut kios terlihat tiga perempuan asyik merangkai batu-batu perhiasan menjadi sebuah kalung. Mereka bukanlah para pekerja kios yang sedang membuat produk, melainkan pembeli. Ternyata ini salah satu cara untuk memanjakan pelanggan. Pembeli diperbolehkan merangkai sendiri perhiasan yang diinginkan. Hal ini membuat mereka yang kreatif dan perfectionist menjadi terpuaskan.

“Saya memang langganan di sini, dan bisa berjam-jam kalau sudah begini,” kata Bobby, seorang ibu asli Bandung namun sudah menetap di Balikpapan selama 28 tahun. Sepiring rujak segar dari pemilik kios hadir melengkapi kegiatan mereka.

Yellow Safir-Merah Birma-Jamrud-Rubby-Blue Safir

Selain menjual perhiasan batu-batu alam dengan harga terjangkau, pasar ini juga menjual berbagai jenis perhiasan batu mulia dengan harga selangit. Meskipun batu mulia asli Kalimantan hanya ada tiga jenis, yaitu kecubung, akik dan berlian, berbagai jenis batu mulia impor juga lengkap berjejer rapi di etalase kios. Sebuah cincin batu jamrud dengan taburan berlian disekelilingnya dan diikat cincit emas putih dihargai sebesar Rp 90 juta. Sebuah harga yang fantastis. Tak heran, pasar yang terdiri dari 641 kios dan buka setiap hari hingga pukul 18.00 WITA ini bisa mencapai omzet Rp 2 miliyar sehari.

Teks&Foto : Vonny Pinontoan

Kamis, 03 Februari 2011

Suatu masa di tempat yang indah, Alun-alun Surya Kencana

Saya tiba-tiba terusik akan suatu peristiwa, suatu masa, di suatu tempat yang indah, alun-alun Surya Kencana, Balai Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango (BTNGP), Jawa Barat. Seakan memiliki suatu utang yang belum terbayar, saya merasa diminta untuk menuliskan sepenggal kisah perjalanan saya.

Alun-alun Surya Kencana
Walaupun ini merupakan kali kedua saya mengunjungi BTNGP, namun ini kali pertama saya bermalam di lembah yang sangat terkenal itu. Alun-alun Surya Kencana merupakan lembah yang sangat luas dengan padang rumput yang ditumbuhi banyak sekali bunga Edelweis (Anaphalis javanica). Disana mengalir satu sungai kecil dengan air yang sangat jernih. Sumber air selalu menjadi favoritku bila mendaki gunung. Air yang jernih dan rasa dingin yang segar memberikan kepuasan dahaga yang tak terkira.

Sekitar 2,5 tahun yang lalu, 20 April 2008 saya terbangun ditengah senyap dan dinginnya malam, alun-alun Surya Kencana. Jam tangan saya menunjukkan pukul 04.15. Tidur yang kurang nyenyak membuat saya memutuskan untuk keluar tenda. Sekedar untuk mencari tau pemandangan seperti apa yang akan disajikan alun-alun Surya Kencana kala menyambut pagi.

Udara dingin yang menusuk tulang menyapaku seketika saat saya membuka resliting tenda dome. Hawa subuh yang sangat dingin, tidak bisa menahanku tuk terus mengagumi keindahan yang disodorkan padaku. Alun-alun Surya Kencana yang sangat luas terlihat berselimutkan kabut dengan diterangi cahaya bulan purnama seakan ingin menyapaku, “selamat pagi”.

Mata ini tak puas-puasnya memandang hamparan lembah yang terlihat begitu anggun dengan sehelai selendang kabutnya yang tipis. Cahaya bulan purnama pun menyempurnakan keanggunan itu. Segelas teh hangat yang kubuat tuk melawan hawa dingin, menjadi teman yang tepat untuk menikmati moment indah yang entah kapan bisa kunikmati lagi.

Menjelang pukul 05.00, kabut tipis yang menyelimuti perlahan mulai menghilang dan memberikan ruang kepada bulan dan bintang-bintang tuk menemaniku dengan lebih dekat. Sungguh jelang pagi yang sempurna, hingga keheningan pecah karena suara teriakan dari para pendaki lain yang telah terbangun dari tidurnya.

Jatuh cinta dengan suasana pagi di alun-alun Surya Kencana membuatku memutuskan untuk menikmatinya perlahan. Hal ini lah yang membuatku terus teringat landscape indah yang juga terukir indah di dalam memory otak ini. Alun-alun Surya Kencana, entah kapan saya bisa menikmati kesunyian dan keheninganmu lagi. Saat cahaya rembulan, kabut tipis, dan segelas teh menjadi teman dekatku saat pagi menjelang.

Mitos
Menurut mitos yang berkembang, alun-alun Surya Kencana merupakan tempat tinggal dari Pangeran Surya Kencana. Bupati pertama, pendiri kota Cianjur, Jawa Barat, Pangeran Arya Wiratanudatar konon memiliki hubungan dengan putri jin hingga mempunyai anak yang dinamakan Pangeran Surya Kencana. Pangeran Surya Kencana kemudian tinggal di lembah lereng Gn. Gede yang kemudian lembah tersebut dinamakan sesuai dengan namanya. Pangeran Surya Kencana memiliki 2 orang putra yakni, Prabu Sakti dan Prabu Siliwangi. Menurut cerita dari beberapa pendaki, kerap terdengar derap langkah kuda yang berlari di alun-alun Surya Kencana, konon kejadian ini merupakan pertanda bahwa Pangeran Surya Kencana sedang berada disana dan dikawal oleh prajurit.

Catatan penulis
Apabila anda menginap di alun-alun Surya Kencana pada hari Sabtu atau Minggu, anda akan bertemu dengan para penjual nasi kuning dan nasi uduk di pagi hari. Sekitar pukul 03.00 subuh para penjual yang berasal dari desa Gn. Putri ini mulai mendaki hingga sekitar pukul 05.00 tiba di alun-alun Surya Kencana. Mereka menjual sarapan kepada para pendaki di ketinggian 2750 mdpl. Harga satu bungkus nasi kuning/nasi uduk ini hanya Rp 5000,- (tahun 2008). Nasi nya masih hangat, enak sekali dengan campuran lauk tempe dan mie goreng. Apabila anda penasaran dengan nasi kuning/uduk alun-alun Surya Kencana, pastikan anda menginap disana hari Sabtu/Minggu. Gn. Gede menjadi sangat ramai pada hari Sabtu/Minggu itulah sebabnya mereka hanya menjual di hari tersebut, disamping karena mereka juga memiliki pekerjaan lain pada hari lainnya.

foto dan mitos dari berbagai sumber

Kamis, 18 November 2010

Dewata Island, Bali

This is my 7 days trip with my friends at collage (Siti and Hajar) in Bali. I will explain about all the cost, the places, interest and my kind friends who had share their joy when we were in Bali.
First day – October 23rd 2010

We were arrived in Ngurah Ray Airport at 23.00 o’clock and we were picked up by Charlie, our collage friend. At that night, we ate nasi jingo with only Rp 3000,- each pack. Nasi Jinggo is a traditional meal from Bali, it is like Nasi Kucing (from Yogyakarta) It is contain rice with the side dish : noodle, serundeng,  chicken with small portion. We spent our first night at Arya’s room rent in Denpasar.

“Charlie”
Charlie is our class mate when in collage. He is from Bali and work at Denpasar. This is our first meet since we graduated. We were really helpful by him. Thanks a lot to Charlie, who always be with us every night in Bali.

“Arya”
Arya is our house rent mate when we were still collage in Bandung. She is also from Bali and work at Ubud. Our first and second night was in her room rent. She had a lot of work and have to move to the new company, so we decided to move to Hotel for her comfort.  

Second day – October 24th 2010
We went to Ubud and have a lunch at Nasi Ayam Kedewalan.

Nasi Campur

After that we went to Pasar ubud. It is a traditional market but the price is so high. The seller will give you a high price and if we were a local tourist then they will make the price lower. Then we continue to the Monkey forest. The monkey is naughty. It almost steal my pack. My friend said that Ubud is the location for the rich tourist. Rich tourist need quite location, and Ubud has it. That’s why the price in Ubud is very high. Ubud is also famous for its art. Arya said that Bali’s art is born in Ubud. Today, we really thank full to our friend Tude, who had company us to Ubud by his car.

Have you ever read the book "Eat Pray Love" or watch the movie? If yes, so you must knew about Ketut Liyer, the famous grandpa who had correct saw the future for Elizabeth, Gilbert the writer of  Eat Pray Love. Our advantage was we have Balinese friend (Tude) who knew well about Ubud, so we can visited Ketut Liyer's house at Ubud easier than I thought before. There were around 10 people (domestic and international tourists, woman and man) who were waiting to meet Ketut Liyer. A man came and told us that if we want to meet Ketut Liyer, we must come back again tomorrow, because for today it was already close for new visitors. The cost for the consultation with Ketut Liyer is Rp 250.000,-(Domestic and International tourist is same price)

Ketut Liyer's House
We also come to Monkey Forest. The entry ticket is Rp 20.000. Actually we want to get entry at the first but when I sat down in front of the gate, one monkey was trying to stole my bag, and it was scary! I canceled to entry and decided to go back.

The naughty monkey
Tomorrow is our plan for diving (me) and snorkeling (Siti and Hajar) so we need to meet Tude’s friend who will guide us tomorrow.

“Tude”
Tude is his nick name. His real name is puTu geDe. He is a silver entrepreneur. I asked for his help to find us a guide for diving and snorkeling. His friend is Ketut Eka, who will guide us to Tulamben.

“Ketut Eka”
Bli Eka is a dive master for PADI license. He also a trainer for surfing and has many business in Bali. Outside he looked scary, but he has a kind heart. He is really a kind person at all.

Third day – October 25th 2010
This is my great day, because I will get dive again since my last at February. Tulamben is a nice place to dive. There is a USA ship sank there. We can only walk from the beach to get dive and boat is not required. It was so excited when I could dive again and saw many cute fishes. They are really cute. We start dive at 12.00. I got dive for twice and we finished at 16.00. For this trip, I’ve got special price..it’s only Rp 600.000,- Thank full for Tude and Bli Eka who had gave me a great day in Tulamben. My dive log book is now six, yeah just six, but I am happy.

Tulamben
The beach
Feed fishes
At the night we asked Charli to help us to find a Hotel in Kuta. At the 00.00 we finally got it at Adus beach inn. For one night is Rp 230.00 for 3 persons with a fan, bathtub and an extra bed. The room also has balcony.

Swimming Pool of Adus Beach Hotel

Fourth day – October 26th 2010
This is our first day to get adventure alone without our Bali’s friends. We rent 2 motorcycles for 4 days. Each cost is Rp 30.000/day. This was our shopping day at Sukawati market. This market has a cheap price. But we have to make a good deal before buy, because the seller will give you a high price first. If you has a good skill to get a good deal price then it can be very cheap. Sukawati market price is lower than Ubud market. The location of Sukawati is before Gianyar. So if you want to follow the mark information, you should follow the mark of Sukawati or Giayar.

At the night, we spent our time in Happy Puppy for sing songs with Charlie. It’s been a long time we can meet each others since we graduated from our collage.

Fifth day – October 27th 2010
Today we have planned to go to Joger. One of the famous brand from Bali. We arrived at the store in St.Kuta Raya at 11.00 o’clock and the store wasn’t open yet. What a crazy! Out side the store so many domestic tourist were waiting. How come the store wasn’t open yet at 11.00 o’clock? As I knew, the latest time of the store to open is 10 o’clock. Finally at 12.00 o’clock the store is open. Don’t be happy too fast, because we must get a long queue first for through the metal detector before enter the store entrance. I didn’t buy anything there. Hajar was the person who really want to go here and she was bought much here.

Joger
The adventure was continued to Tanah Lot temple, the famous temple. The temple is at the beach and if the sea water raise, then we can not go through the temple. Only who want to pray that can be enter inside the temple. For the visitor like us, we can only be out side near the temple. There is a water spring called holy spring out side the temple. It is strange because the temple is at the beach, but the water that came out is not salt at all. There are 3 holy snakes that live in the cave at the beach. The man who is guard the snake said that these 3 holy snakes are the guardians for the Tanah Lot temple.
Tanah Lot Temple
Beji "Holy Spring"
The holy snakes

Kecak fire dance is always held every day at 18.30. Ticket price for this fantastic show is Rp 50.000,-. Only Siti who’s watched this show because I and Hajar have ever watched this show.

Sixth day – October 28th 2010
We didn’t notice before that this day would be our hardest day in the whole week. Our plan was going to Batur lake and Besakih temple. Batur lake is in Kintamani and we had a long long long time to get there. We needed 3 hours riding motorcycle to get Batur Lake. When we arrived at the harbour, the location to get across to Trunyan village, we stuck with a woman who sell merchandises. We’ve already said “NO” many times but she didn’t care and keep follow us whenever we go. I was very uncomfortable and we were just around 30 minute there.
Mt Batur - Batur lake
Are we lost? (just acting)
Trunyan is a village that doesn’t burry the corpse. They just put the corpse under the tree that can absorb the stink from the corpse. If you want to get across, the rent boat is around Rp.350.000 – Rp. 400.000

From there we went to Besakih, the biggest temple in Bali. On our way we got rainy day and we have to stop at the small shop and meet a happy family. A woman and her husband accepted us very welcome. They have 5 dogs, one of them is very cute named Giant. The woman take care Giant just like her child. Hajar said to her, “Giant just like your child” and the woman said, “I have no children, so I just have them (dogs) just like my children”. Seem so sad, but they looked happy. Suddenly my heart smile and pray for their good.

Besakih Temple
Map of Besakih
We arrived at Besakih at 16.00, we are in a hurry because we didn’t want get dark on the way go home. At 17.00 we were going back to Denpasar. As usually, we always got lost each other. We meet at Erlangga store and bought some merchandises. We all totally have 6 hours for riding the motorcycle today and it was hurt our body perfectly. At Erlangga we also arrange meeting with Charlie and we had dinner together. I said that I am done with the motorcycle. I asked to Charlie to company us tomorrow by car. I thought that I have a bad memory after today. Charlie said that he can try to company us at the noon around 15.00 o’clock and go to the Dream land beach. So I said to Siti and Hajar at the morning we will have a beach walk at Kuta, no more motorcycle, and for sure they all agree because we all have the same hurt. Hahaha.

At the night I wanted to walk at Legian but no one of Siti and Hajar want to. I was lucky because my friend, Tude, want to company me. After walked at Legian, we came to Kamasutra, a night club near Kuta beach. That was so quite and I wasn’t interested much, so we were just 30 minute there and back home. Thank you for Tude for his kindness.

Seventh day – October 29th 2010
At the morning we have good news. Charlie can company us earlier then he told before. So we can also go to the Nusa dua and Dream land by car. Sayonara motorcycle, you have done good job as well. We got the sun set at the Kuta beach from the Mall. It was such a beautiful sunset.

Canang and the bird

Water Blow Nusa Dua

Dream Land

At the night we visited the Bomb Bali Monumet at Legian. The sadness story of Bali, when  the terrorist s blow up the bomb in Paddy's and Sari Club at October 12, 2002. There were 202 died because its tragedy.

Bomb Bali Monument

Eighth day – October 30th 2010
My last morning at Bali, and it made me not really happy. I like Bali much and I want more time here but our flight was at 08.45. Charlie picked we up to the airport. Another friend of us at the collage was arranged meeting with us at the air port. He’s name is Angga Yoni. Short time, but it was so valuable. Thank you for coming and meet us there.
Thank full to Charlie, who spent his all night and played with us.
“Angga Yoni”
He is our collage mate and now he is working at Denpasar. We couldn’t meet in our whole holiday because he was too busy to meet us. We all were okay about that. He could meet us at the airport  and arrived earlier than us just touched our heart. Hehe.

Thanks all for this trip.

My cost in Bali:
  • Ticket Jakarta-Denpasar-Jakarta = Rp 670.000
  • Air port tax :
  • Jakarta : Rp 40.000
  • Denpasar : Rp 30.000
  • Taxi to Gambir : Rp 10.000
  • Taxi Airport – Setia budi : Rp 150.000
  • Bus to Airport : Rp 20.000
  • Diving : Rp 600.000
  • Eating cost : Rp 289.000
  • Presents and merchandise : Rp 170.000
  • Hotel : @Rp 385.000/5 days (Rp 230.000/day)
  • Motorcycle : @Rp 80.000/4 days (each Rp 30.000/day)
  • Gasoline : @Rp 24.000
  • Laundry : Rp 17.500
  • Karaoke : @Rp 74.000
  • Ticket Tanah lot : Rp 9000,- (2 motor cycle + 3 person = Rp 27.000)
  • Ticket Besakih : Rp 20.000
  • Canang Besakih : Rp 10.000 (we didn’t know if it was a must or not)
  • Map : @Rp 8.000 (Rp 23.000)
  • News paper : Rp 3000
Total cost : Rp 2.600.000,-

Rabu, 13 Oktober 2010

Bandung, 09-10 Oct 2010

Hari Sabtu siang, tanggal 09 Oktober 2010 aku bersama tiga orang kawan (Jeng Mile, Hajar dan Mas Boy) bergerak dari Jakarta menuju Bandung. Rasanya sudah lama sekali sejak terakhir kali saya berkunjung ke Bandung. Banyaknya kenangan membuatku selalu kangen dengan kota ini karena sebelumnya saya kuliah di Sekolah Tinggi Teknologi Telkom (STT Telkom), yang sejak bulan November 2008 menjadi Institut Teknologi Telkom (IT Telkom. Empat setengah tahun waktu yang kuhabiskan di kota ini.

Kami sampai di Bandung sore hari dan langsung di sambut dengan kemacetan di jalan Buah Batu. Sore itu kami lalui dengan makan sop buah di belakang gedung sate. Sekedar ingin mengingat jaman dulu saat masih kuliah, nongkrong disini sambil menikmati sore ditemani semangkok sop buah yang nikmat. Semangkok sop buah harganya Rp 10.000, isinya ada mangga, apel, pear, bengkoang, lengkeng, melon, strawberi, durian, jelly, dan susu.

Selepas menyantap sop buah, kami langsung menuju Bebek Van Java untuk makan malam. Bebek Van Java punya 2 lokasi di Bandung, Jl. Lombok No. 47 dan Jl. Dipati Ukur No. 5A. Harga satu porsi nasi + bebek disini berkisar Rp 25.000. Selepas memuaskan perut, kami pun menuju kosan Siti untuk beristirahat. Siti adalah kawan kami yang bekerja di Bandung, kamarnya adalah tempat penampungan sementara untuk para karyawan dari Jakarta. Mas Boy sendiri sudah punya tempat penampungan lain tentunya. Satu jam kemudian kami bergerak menuju Dago Plasa untuk mencari hiburan. Semua tempat karaoke dan bilyard penuh sehingga kami memutuskan untuk memuaskan perut dengan makan surabi ENHAI di Jalan Setia Budi. Kalau dari datang dari arah bawah, tempatnya ada disebelah kanan jalan. Harga surabi cukup terjangkau dari Rp 4000 - Rp 7000

Minggu pagi, 10 Oct 2010, atau lebih indah bila disebutkan 10-10-10. Tanggal cantik ini dipilih untuk jadi tanggal diselenggarakannya moment 4 tahun sekali Pasar Seni ITB yang menyebabkan Dago macet parah. Untuk masuk Pasar Seni ini pengunjung tidak dipungut biaya. Sesampainya kami di ITB, nuansa macet masih terus menghantui. Suasana di kampus ITB juga macet parah oleh para pengunjung. Lautan manusia sangat padat memenuhi tempat yang sebenarnya sangat luas ini. Pengamanan tidak terlihat begitu mencolok. Saya bahkan tidak melihat polisi yang bertugas di dalam acara. Begitu sampai di lokasi, kami langsung mencari sesuap nasi. Puas makan nasi padang seharga Rp 17.500, kami pun mulai bergerak untuk melihat lihat "isi" dari Pasar Seni yang masih saja penuh sesak oleh lautan manusia.

Karena terlalu banyak manusia, seni yang ditampilkan jadi tidak terlihat begitu menarik. Akhirnya kami menyerah dan pukul 17.00 kami meninggalkan lokasi. Tidak membeli apapun yang dipamerkan malah saya dan Mile membeli kaos Bandung dan siti membeli tanaman pot. Lumayan, daripada pulang dengan tangan kosong.he he he.

Bandung my beloved city..always has a place in my heart..

Kamis, 30 September 2010

Menyapa Mahameru "Puncak abadi para dewa"

Gunung Semeru dengan puncak Mahameru adalah gunung tertinggi di pulau Jawa dengan ketinggian 3676 mdpl.Gn Semeru terletak di Propinsi Jawa Timur (8°06' LS, 120°55' BT) dan dapat ditempuh dari Lumajang dan Malang. Inilah gunung pertama yang sangat ingin aku daki saat telah bergabung dengan Astacala walaupun pada kenyataannya baru pada tanggal 19 September 2010 kemarin aku menggenapinya, berdiri dipuncak Mahameru, dan menjadi salah satu manusia yang berdiri paling tinggi di pulau Jawa.

Ranukumbolo
Mahameru juga dikenal sebagai “Puncak abadi para dewa” sebab menurut legenda kepercayaan masyarakat Jawa yang ditulis pada kitab kuna Tantu Pagelaran yang berasal dari abad ke-15,para dewa memutuskan untuk memakukan Pulau Jawa dengan cara memindahkan Gunung Meru di India ke atas Pulau Jawa. Dalam agama Hindu ada kepercayaan tentang Gunung Meru, Gunung Meru dianggap sebagai rumah tempat bersemayam dewa-dewa dan sebagai sarana penghubung diantara bumi (manusia) dan Kayangan. Menurut orang Bali Gunung Mahameru dipercayai sebagai Bapak Gunung Agung di Bali dan dihormati oleh masyarakat Bali. Upacara sesaji kepada para dewa-dewa Gunung Mahameru dilakukan oleh orang Bali. (source : wikipedia)

Reputasi Gn Semeru yang masih sangat aktif dan tak sedikit menewaskan banyak pendaki yang mencoba menaklukkannya membuat pesona Gn.Mahameru semakin kuat bagi kebanyakan orang. Tak jarang karena resiko yang cukup besar, dari Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) menutup jalur ke Puncak, dimana para pendaki hanya disarankan mendaki hingga pos Kalimati.

And the Journey has begun,,16 September 2010,,

Perijinan dilakukan di Tumpang dan Ranupane. Administrasi yang harus dilengkapi saat perijinan di Tumpang adalah :
1. Fotocopy KTP atau KTM untuk mahasiswa (2 lembar)
2. Surat keterangan berbadan sehat dari dokter (2 lembar),
3. Membayar tiket masuk seharga Rp 5750 untuk pelajar/mahasiswa dan Rp 7000 untuk umum.
Bila membawa camera akan dikenakan biaya Rp 5000/camera. Dari sana akan diberikan surat jalan yang nantinya diberikan ke pos perijinan di Ranupane. Di pos perijinan ini juga kita dapat membeli souvenir berupa stiker, pin, gantungan kunci dan kaos Gn. Mahameru. Untuk kaos harganya Rp 45.000,- yang mana belakangan kami ketahui harganya jauh lebih murah dibandingkan bila membeli di Ranupane Rp 60.000,-

Kantor Perijinan di Tumpang
Perjalanan dari Tumpang ke Ranupane (08°00’ 52” LS, 112°56’ 43” BT) ditempuh selama kurang lebih 3 jam. Alat transportasi yang digunakan dapat berupa Jeep dengan biaya Rp 30.000,-/orang atau menggunakan truck seperti yang kami lakukan dengan biaya yang sama. Truk yang kami gunakan adalah milik Mas Pras. Mas Pras sendiri sudah 10 tahun menyetir truck untuk mengantar sayur dan para pendaki dari Tumpang ke Ranupane.


Truck Mas Pras
Bila menggunakan Jeep

Perjalanan ke Ranukumbolo (08°00’ 52” LS, 112°56’ 43” BT) seharusnya dapat ditempuh 4 jam, namun karena keadaan yang hujan dan perjalanan yang cukup santai, kami pun tiba di Ranukumbolo saat langit sudah gelap dan rintik hujan masih terus menyertai derap kaki kami saat mendirikan camp. Malam itu tidak begitu indah sebab Ranukumbolo diselimuti kabut sehingga kami tak dapat menikmati langit cerah dengan bintang-bintang.

Pukul 05.00 pagi aku terbangun dan bergegas melihat keluar tenda untuk melihat matahari terbit disela sela bukit. Kurang beruntung, saat itu kabut sangat tebal menyebabkan sekitar bukit dan danau tertutup kabut. Matahari berangsur angsur naik dan memberikan hangatnya, namun tak jarang hembusan angin lembah yang menghampiri kami membuat kami kembali menggigil. Indah dan anggun, Ranukumbolo yang menawan.





Pukul 10.00 kami bergerak menuju Pos Kalimati  (08°05’ 15” LS, 112°55’ 02” BT), dari Ranukumbolo kita harus melewati bukit untuk menuju sabana oro oro ombo, namun sebelum itu kita harus melewati tanjakan cinta, yang konon katanya apabila seseorang yang melewati tanjakan cinta tanpa menoleh kebelakang, dipercaya cintanya akan abadi.

“Lantas bagaimana bila orang yang naik itu sedang jomblo?” tanya salah seorang dari kami, dan langsung terdengar jawaban :

“Ya, jomblo mu abadi !!”

Entah benar atau tidak, akupun seakan tidak ingin menoleh kebelakang saat berada di tanjakan cinta. Seakan ingin menghormati mitos yang ada aku pun menoleh kebelakang saat berada di puncak tanjakan dan melihat betapa indahnya hasil karya Tuhan untuk umatnya, Ranukumbolo. Suasana yang indah dan cuaca yang sejuk membuat kami memutuskan untuk beristirahat sejenak diatas bukit sambil menikmati indahnya danau. Aku yakin kami semua yang berada disana merasa sangat beruntung bisa melihat ini semua secara langsung.

Track jalur ke pos Kalimati boleh aku bilang cukup nyaman. Selain landai, pemandangan yang disajikan juga sangat indah dan membuat hayal melayang jauh. Tak jarang kami melihat puncak Mahameru meletus mengeluarkan wedus gembel nya yang terkenal itu. Sayang sekali aku tidak sempat mengabadikan moment itu karena cuaca yang terkadang gerimis membuat kameraku diam dibungkus dry back di dalam carrier sepanjang perjalanan.

Berbeda dengan hari sebelumnya, kami bergerak cukup stabil dan tidak terlalu banyak istirahat. Kami sampai di pos Kalimati pukul 15.00. Terlihat banyak pendaki yang sudah mendirikan camp disekitar shelter. Kami memilih mendirikan camp sedikit lebih jauh dari shelter.

Kalimati
Menuju mata air
Tak jauh dari pos, ada sumber mani, mata air. Menurut informasti dari pendaki lain, untuk sampai ke mata air dapat ditempuh dengan waktu 10 menit ke arah Barat, sekitar 30 menit perjalanan pergi-pulang. Karena tak ada dari kami yang pernah Gn. Semeru sebelumnya, maka kami memilih untuk safety dengan menyiapkan air dari Ranukumbolo untuk menghindari kemungkinan tidak menemukan sumber air atau sampai ke lokasi terlalu malam.

Pukul 21.00 segala persiapan ke puncak sudah selesai kami siapkan. Pukul 23.00 rencana kami ke puncak terpaksa tertunda karena cuaca yang berkabut disertai gerimis hujan dan angin yang cukup kencang. Karena cuaca yang kurang baik, kami kembali istirahat sambil tetap memonitor keadaan cuaca yang kami harapkan akan berubah cerah. Tak disangka kami ketiduran dan terbangun oleh panggilan dari Marmut, anggota Astacala, yang berbeda team dari kami. Ia hendak menuju puncak dan menghapiri tenda kami.

Ternyata sudah jam 01.50, dan langit sangat cerah, bintang-bintang terlihat berhamburan di langit sangat banyak. Bergegas kami bersiap untuk menuju puncak abadi para dewa. Pukul 02.30 kami start dari camp menuju puncak Mahamer dan pukul 05.00 kami sampai di batas vegetasi dan sekitar pukul 09.00 aku berhasil menyapa Puncak Mahameru, puncak abadi para dewa, waktunya agak terlambat sebab maksimal jam 09.30 kami sepakati untuk berada di puncak karena dikhawatirkan pukul 10.00 akan ada asap beracun yang mengarah ke puncak. Nampaknya para dewa menerima kehadiranku disana sebab cuaca yang tadinya berkabut menjadi cerah. Aku bahkan dapat melihat dengan jelas bibir pantai disebelah selatan dan bibir kawah Jonggring Saloko.

Puncak 3676 mdpl

ASTACALA on the TOP

Kurang lebih 6.5 jam kami lalui untuk mencapai puncak Mahameru yang kami nikmati selama kurang lebih 10 menit namun menjadi 10 menit yang tak kan pernah aku lupakan. Kalau untuk mencapai puncak kami membutuhkan waktu 6.5 jam, untuk turun dari puncak dan mencapai Kalimati hanya diperlukan waktu sekitar 2 jam dengan kecepatan yang santai. Rencananya sore itu kami akan menuju Ranukumbolo namun cuaca ternyata berkata lain, hujan lebat mengguyur kami yang saat itu sudah siap berangkat dengan carrier masing-masing. Dengan beberapa pertimbangan akhirnya kami tidak melanjutkan perjalanan ke Ranukumbolo dan kembali mendirikan camp di Kalimati.

Ternyata kami cukup beruntung, sebab malam itu hujan sangat lebat dan berlangsung hingga esok pagi jam 08.00. Salah satu group yang nge-camp di samping kami bercerita bahwa saat tengah malam mereka nekat menerobos hujan menuju puncak dimana akhirnya mereka putuskan untuk turun kembali setelah terjadi hujan es di Arcopodo. Kami bergerak dari Kalimati menuju Ranupane pukul 11.30 dan sampai di pos perijinan sekitar pukul 18.30. Disana sudah menunggu Mas Pras sang pemilik truck sayur yang menjemput kami. Beliau sudah menunggu kami sejak pagi sebab sebelumnya kami mengatakan akan sampai di Ranupane siang hari.


Bersama Mas Pras 
Perjalanan ini akhirnya pun berakhir dengan perjalanan pulangku dari Malang-Jakarta menggunakan kereta api executive Gajayana seharga Rp 360.000,- tanpa diberikan makan malam ataupun sekedar air putih. Ternyata service kereta api untuk perjalanan jauh sudah tidak mendapatkan makan malam. Malam itu pun akhirnya aku merogoh kocek untuk membeli teh panas dan nasi goreng.

21 September 2010 pukul 09.00 aku sampai di stasiun gambir, pulang ke kosan untuk mandi dan langsung ke kantor. Melelahkan namum sangat menyenangkan.

I love my adventure
Thanks to all team : Cirit, Monop, Pinan, Kresna, Sondang, Bram, Ellya dan Evalin for our great journey to say Hello at Mahameru

All team

Rincian pengeluran untuk trip kali ini :

Tiket pesawat Jakarta – Surabaya : Rp 325.000
Airport tax : Rp 40.000
Pengeluaran di Surabaya : Rp 100.000
Saweran logistic : Rp 300.000
Subsidi ke team Rp : 135.000
Tiket kereta Malang – Jakarta Rp 360.000
Makan malam : Rp 25.000
Taxi : Rp 25.000
Kaos Mahameru : Rp 45.000
Total pengeluaran : Rp 1.355.000

Jumlahnya hampir sama dengan pengeluaran saat ke Singapore sebelumnya. Namun jumlah pengeluaran anggota team yang lain tentu saja jauh lebih kecil karena transportasi mereka menggunakan kereta ekonomi ^.^v