Kamis, 09 September 2010

Untung Jawa

Pulau Untung Jawa merupakan salah satu pulau dalam gugusan Kepulauan Seribu. Pulau ini terletak di sebelah barat Teluk Jakarta. Untuk menuju pulau ini kita bisa melalui dua tempat yaitu Muara Angke dan Pantai Tanjung Pasir, Tangerang. Dari Muara Angke, kapal tujuan Pulau Pramuka dan Pulau Tidung selalu menyediakan kesempatan bagi siapapun untuk singgah sebentar di Pulau Untung Jawa. Ini dikarenakan letak Pulau Untung Jawa yang terletak di tengah-tengah, diantara pulau-pulau yang dilewati kapal penyebrangan. Penyebrangan yang terdekat dapat dilakukan dari Pantai Tanjung Pasir dalam waktu 20 menit. Transportasi di Pantai Tanjung pasir – Pulau Untung Jawa Meggunakan kapal kecil bertenaga Diesel truk. Menurut info terakhir ongkos perahu ke Pulau Untung Jawa Rp 10.000

Kapal untuk menyeberang
Hari Minggu tanggal 29 Agustus 2010 team Corporate Social Responsibility (CSR) dari kantorku membuat acara Bazar murah di Pulau Untung Jawa. Program Bazar murah ini akan menjual baju-baju bekas yang masih layak pakai dengan berkisar Rp 1000 – Rp 20.000. Program ini sengaja dilakukan selama bulan Ramadhan. Baju baju bekas yang akan dijual sebelumnya telah dikumpulkan dari karyawan kantor dan terlebih dahulu di laundry dan diberi label harga. Program ini dibantu oleh LSM dari Bogor, forum Badak.

Disana saya dan Dhanti membantu di kasir. Setiap pembeli yang membayar di kasir akan mendapatkan souvenir (pulpen Esia), aqua gelas dan ta’jil. Pembeli dengan jumlah belanjaan minimum Rp 10.000 akan mendapatkan kupon yang dapat ditukarkan dengan kartu Perdana “Esia” seharga Rp 10.000. Hasil penjualan akan dibelikan sembako untuk masyarakan Untung Jawa yang kurang mampu.

Masyarakat Pulau Untung Jawa ternyata sudah menunggu kedatangan kami sejak pagi hari, sebab dari informasi yang mereka dapatkan harga bazaar yang sangat murah membuat mereka sangat antusias. Mereka bahkan bertanya dengan seakan tidak percaya kepadaku “Mba ini benar harganya segini?” tanya salah seorang ibu sambil menunjuk harga Rp 3000,- untuk sebuah kemeja yang masih bagus.
Sangking antusiasnya, Pak Darno dari forum Badak harus naik ke meja untuk berteriak memberi pengarahan kepada masyarakan yang sudah berkumpul dan mengelilingi meja dagangan.

Pak Darno memberi pengarahan
Pembeli dari ibu ibu, bapak bapak, remaja bahkan anak anak kecil. Kebanyakan dari anak kecil lebih tertarik pada ta’jil yang kami sediakan. Beberapa dari mereka bahkan ingin memberi ta’jil tersebut. Dengan berat hati kami katakana bila ingin ta’jil maka harus belanja terlebih dahulu. Alhasil beberapa anak memanfaatkan kesempatan ini, mereka akan mencari baju dengan harga Rp. 1000 dan mengambil ta’jil yang mereka inginkan. Beberapa anak melakukan hal ini hinggal berkali kali. Lucu melihat tingkah laku anak-anak yang masih polos namun cerdik seperti mereka. Kami menyediakan 4 macam jenis ta’jil yang dapat mereka pilih salah satu, kurma, kue pisang coklat, egg roll, dan brownies. Kebanyakan dari mereka sangat menyukai kue Brownies.

Kasir
Ternyata lelah juga menjadi kasir, saat pembeli sudah mulai sedikit, kira-kira pukul 16.00 saya mengambil kamera untuk mengambil beberapa gambar disekitar pantai. Pohon bakau terlihat disekeliling pantai pulau Untung Jawa. Tak lupa kami juga menyewa sepeda Rp 5000/jam untuk berkeliling di pulau ini. Suasana yang indah dan tentram membuatku ingin sejenak rebahan di pinggiran pantai namun terhalang masalah waktu sehingga niat itu saya urungkan.

Pantai  Untung Jawa
Waktu yang semua orang tunggu akhirnya datang juga, yaitu waktu berbuka. Walaupun saya tidak berpuasa, namun tetap saja suasana puasa disekeliling membuatku tidak leluasa untuk makan maupun minum, alhasil untuk minum saya harus ngumpet sebab teman-teman yang sedang berpuasa wajahnya dapat terlihat sudah sangat kehausan dan saya tidak tega menggoda mereka. Es kelapa muda menjadi hidangan yang sangat nikmat malam itu. Rasanay pas, kelapanya muda, sungguh nikmat kehidupan pesisir apalagi hidangan malam itu adalah udang goreng tepung, ikan kakak bakar, ikan kuwe bakar, udang asam manis dan kangkung cah. Sayangnya saat itu tidak ada kerang dan kepiting, Seafood memang makanan terlezat buatku.

Perut sudah kenyang dan malam semakin larut, kami pun beranjak dan pamit untuk kembali naik kapal menuju Pantai Tanjung Pasir, tepatnya pantai 88 tempat kami memarkirkan mobil.

Siung 11-12 Agustus 2007

Sebuah tulisan lama,,sekedar mengingatkan akan indahnya pantai Siung

Tanggal 11-12 Agustus 2007, saya dan Ayis sedikit bertualang ke pantai siung menikmati indahnya sunset sambil merasakan manjat di tebing yang cukup terkenal itu. Kami ditemani oleh kawan-kawan dari Mapagama, Edi dan Angga. Berikut sedikit cerita dari pantai Siung

Sabtu, 11 Agustus 2007

Pukul 07.00 saya dan ayis berangkat ke sekretariat Mapagama untuk melakukan perjalanan ke pantai Siung. Rencananya kami akan sedikit memanjat dan bermain-main di pantai. Sekitar pukul 08.00 kami (saya, Ayis, Edi dan Angga) naik motor menuju pantai Siung. Perjalanan tersebut  cukup membuat pinggul pegal, sekitar 2 jam kemudian kami sampai di pantai Siung. "Cool…!!!" Itu yang kukatakan saat pertama kali memandang laut lepas dari pantai Siung. Pantai yang indah..lama sudah saya tidak melihat pantai sejak kuliah di Bandung dan rasa kangen itu terobati saat aku melihatnya. Biru, ombak, pecahan air, dan desiran gemuruh ombak yang kurindukan. Pantai Siung termasuk pantai yang indah, disini terdapat sederetan tebing yang biasa dipakai untuk manjat. Daerah ini sudah dikelola dan terdapat peraturan yang telah ditulis di papan pengumuman sebelum memasuki daerah tebing panjat. Lokasi ini dikelola oleh Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI). Daerah pemanjatan dapat dipilih mulai dari blok A sampai blok I, dimana setiap blok terdapat beberapa jalur pemanjatan. Menurut Edi, terdapat sekitar lebih dari 40 jalur pemanjatan. Blok favorit, blok D dan E sudah ramai dengan anak Mapalista sehingga kamipun membuat jalur di blok F. Angga masang runner hingga hanger 4, kemudian Edi meneruskan ke hanger 5. Jalur terpasang hingga hanger ke 5. Saat mereka memasang hanger saya lebih memilih berjalan-jalan di pantai dan  di parkiran saya ketemu Fajrin dan mas Bas (Baskoro) dari Mapagama.

Tiba saat saya ingin mencoba memanjat jalur yang telah terpasang di blok F dan ternyata dari 5 hanger saya cuma bisa mencapai runner-3. Setelah mencoba berkali kali akhirnya cuma mentok dii runner-2, sungguh ironis sekali. Saat manjat sampai sekitar pukul 16.00 dan kami kedatangan 8 orang atlit dari Sumatera yang sebelum ke Jogja mereka mengikuti pra pon di Surabaya. Sore itu kami menjadi anak pantai. Saya langsung meminjam camera SLR yang dibawa Edi dan melakukan hunting sampai ke tebing. Tadinya ingin mengambil sunset, tapi dasar tidak sabaran, saya membawa camera tapi lupa membawa film yang baru, alhasil saat sunset tiba, film dalam kamera sudah habis. Saya pun bergegas turun dari tebing menuju tenda dan ingin mengganti dengan film yang baru, namun ternyata sang mentari sudah menghilang dibalik awan. Disini saya belajar bagaimana bersabar itu mahal harganya. Tenda dome yang kami bawa kami dirikan di tepi pantai. Fajrin dan mas Bas kembali memutuskan untuk ke Jogja. Malam yang indah,langit sangat cerah sehingga bintang-bintang terlihat indah di langit. Setelah makan malam dengan sambal yang pedasnya edan, saya memilih menikmati pantai sejenak sambil memandang langit yang dihiasi bitiran-butiran bintang, sesekali kulihat meteor kepeleset, tidak banyak. Para lelaki sibuk ngobrol sambil mengelilingi api unggun namun saat itu saya lebih memilih menjauh dari orang-orang dan pukul 00.00 saya masuk ke dome untuk tidur. Ternyata disana sudah ada Ayis yang sudah tepar entah sejak kapan. 

Minggu, 12 Agustus 2007

Pagi hari pukul 06.00 saya terbangun, dan ternyata semua lelaki yang berada diluar (tidur di luar, beratapkan langit dihiasi bintang) sudah bangun semua. Saya sedikit berjalan-jalan di pantai saat Angga dan para atlit menyiapkan alat untuk kembali mencoba memanjat, entah dijalur mana. Saya, Ayis dan Edi lebih memilih masak-masak terlebih dahulu. Pagi itu, kami masak 2 bungkus mie, dan 2 bungkus bubur yang rasanya asin tetapi lumayan untuk ganjal perut sebelum manjat. Tak lupa kami juga memasak nutri jel untuk anak-anak yang sudah memanjat deluan. Setelah itu kamipun beres-beres, packing dan menyusul yang lain di jalur pemanjatan. Para atlit sudah mencoba jalur yang cukup sulit, mungkin lebih tepatnya sulit di blok C (kalo gk salah ingat). Karena kami semua (Angga, Edi, Ayis dan saya) tidak ada yang mau manjat di jalur itu, akhirnya jalur di cleaning dan kami mencoba jalur yang lain. Kalau tidak salah block D atau blok E yang mana blok ini terletak membelakangi pantai. Saat mencoba, ternyata saya bisa memanjat hingga TOP. Sepertinya kegagalan kemarin di blok F hingga runner ke-3 itu karena belum pemanasan (hehehe). Setelah puas manjat kami pun packing dan kembali ke Jogja. Selamat tinggal pantai siung, you are beautiful beach.

Oh ya ada satu kejadian memalukan. Waktu itu kami sempat melakukan beberapa pengambilan gambar dengan camera SLR yang dibawa Edi, lumayan banyak sudah gambar yang kami ambil (Ayis, saya, Edi dan Bayu) ternyata saat kami tiba di Mapagama, Edi baru sadar bahwa camera tersebut belum diisi film. Whaatt…???!!! What the hell is going on??? :p

14-30 Juni 2007-Part IV (caving-mountaineering-rock climbing)

Part IV : Caving, Buni Ayu, Suka Bumi, Jawa barat

Keesokan harinya, 26 Juni 2007 saya berusaha mengumpulkan tenaga dan mencoba memperbaiki kondisi, sebab kira-kira tengah hari saya sudah harus ke sekre lagi untuk melakukan koordinasi dengan anak-anak sehubungan dengan pendidikan lanjut (diklan) caving yang saya pegang selaku koordinator. Diklan caving ini rencananya akan dilaksanakan tanggal 28 Juni, namun karena diklan RC mundur satu hari, maka diklan caving ikut mundur 1 hari ke tanggal 29 Juni. Sebelum diklan, AM KA harus mengikuti materi kelas dan latihan SRT, mulai dari ascending, descending, melewati simpul, deviasi,dan intermediate. Sebelum berangkat ke lokasi mereka semua harus di test terlebih dahulu. Anggota yang tidak lulus test tidak akan diperkenankan turun ke gua vertikal.

27 Juni 2007,
Pukul 07.00 pagi anak KA dijadwalkan mengikuti review dan latihan SRT di tower. Saya menemani mereka dari jam 08.00 pagi hingga jam 08.00 malam. Wew...12 jam bersama....cape deehh... Saya sempat pulang ke kos selama 2 jam hanya untuk menuci baju berhubung saya sudah tidak punya baju dan underwear untuk dibawa ke Sukabumi, lokasi diklan caving, jika tidak dicuci. Belum lagi besok nya saya sudah harus siap-siap berangkat ke Buni ayu, Sukabumi sebagai team pendarat. Rasanya ingin hilang sejenak, tapi itu tidak mungkin.

28 Juni jam 09.00
Saya dan ayis siap-siap untuk berangkat menuju Buni Ayu, Sukabumi. Kami naik bus sekitar pukul 11.00 dan sampai pada pukul 16.30. Saat kami samapi di Buni Ayu ternyata sedang ada syuting film. Daerah sekitar hutan di Buni ayu ini memang sering dijadikan lokasi syuting film, seperti Siluman harimau dll. Kali ini, syuting film Hercules, tapi versi anak-anak, jadi herculesnya anak kecil gendut.

Pos Perijinan bersama pak Kakai (duduk)
Pak Kakai yang bertanggung jawab mengenai masalah perijinan dan penggunaan lokasi saat itu belum diketahui keberadaanya, sehingga saya dan ayis bersantai sejenak sambil ngobrol dengan ibu warung dan para kru film. Kira-kira sekitar jam 19.00 Pak Kakai muncul bersama motor antiknya, motornya dihiasi balutan kain batik diseluruh bodi motor dan dijok belakang terdapat boneka marsupilami yang diinfus. Setelah melakukan perundingan dan nego harga, saya dan ayis kembali bersantai sambil menyaksikan pengambilan gambar film Hercules. Pukul 21.00 kami memutuskan untuk menumpang tidur di warung depan pos.

29 Juni 2007,
Peserta diklan yang tadinya ingin saya pecah menjadi dua kelompok, tidak jadi saya lakukan berhubung jumlah instruktur sangat terbatas, 4 orang dan jumlah peserta ada 8. terlalu boros bila kupecah menjadi dua kelompok, ditambah lagi masalah HT yang waktu itu hanya ada sepasang. Setelah berdiskusi dengan 3 orang instruktur yang dalam hal ini disebut mentor (sebutan ini baru dapat dari bu ketua) diputuskan Ayis, Sapi dan Adek yang akan masang anchor untuk gua vertical sedangkan aku mencari jalan menuju air terjun dan entrance gua horisontal bersama anak KA yang mau ikut.

Entrance Gua Vertikal
Tim yang akan ke air terjun dan entrance gua horisontal yang dikenal dengan nama entrance 3 adalah saya, wida, boleng, sigit dan acong. Berdasarkan ilmu navigasi cocot maka jalanlah kami berdasarkan informasi dari penduduk desa Buni Ayu yang sangat ramah terhadap kami. Jalan menuju air terjun sudah kami dapatkan, dan sekarang menuju entrance 3. Hari sudah semakin gelap, cahaya mentari sudah mulai menghilang dari langit dan gelapnya malam sudah menyapa kami. Saat ini kami hanya diterangi oleh cahaya headlamp dan senter tiba tiba terasa ada yang aneh, sebab kami kembali ke jalan semula menuju pos Buni Ayu, dengan kata lain, jalan yang kami lewati adalah jalan menuju basecamp. Ditemani hujan yang turun semakin deras, akhirnya kami kembali ke basecamp dengan terpaksa. Tanpa kami sadari kami diarahkan oleh penduduk untuk kembali ke posisi awal bukannya dan bukan menuju entrance 3. Wida yang pada dasarnya kurang suka dengan hal-hal mistis menjadi sasaran empuk kami berempat. Suasana malam saat perjalanan ke Basecamp sungguh hening, tak ada penduduk yang lalu lalang, semua rumah yang kami lewati terasa sangat sepi dan hening, tak ada suara obrolan ataupun senda gurau membuat Wida ketakutan. Bahkan dia sempat ragu apakah kami berempat ini benar benar adalah kami yang asli. Hahahaha...hiburan dikala senja menyambut malam.

Setiba di basecamp saya melihat anchor sudah dipasang dengan pengamanan berlapis. Setelah makan malam, Adek turun sebagai rigging man disusul oleh ayis, lintasan sangat mudah sebab hanya turun biasa saja, plong sampe dasar kira kira 20-30 meter. Anak-anak KA melakukannya dengan sangat baik, sebab sebagian besar memang sudah menguasai teknik naik turun SRT dengan baik, hanya saja mereka masih belum begitu menguasi untuk melewati intermediate, deviasi dan simpul. Cukup beruntung lintasan untuk diklan ini memungkinkan tali tanpa hal semacam itu. Info dari Adek, saat test SRT cukup menyita waktu, bahkan Monoph sampai muntah. Tadinya sempat khawatir dengan kondisi mereka semua yang nota bene kurang tidur, tapi ternyata mereka semua TOP banget, tidak mengecewakanku, bahkan aku bahagia bisa ngajak mereka turun caving untuk yang pertama dalam hidup mereka. Sungguh kebahagiaan yang tak ternilai harganya :)

Thanks to God, mereka semua tidak mengeluh, tak ada satupun dari mereka terdengar olehku mengeluh becek ataupun jijik saat itu. Biar bagaimanapun ini adalah caving pertama mereka, dharapkan jangan sampai trauma sebab merakalah para penerus sebagai caver baru dari Astacala.

Turun orang pertama pukul 20.00, antrian hingga saya orang terakhir pukul 00.00, hari berganti tanggal 30 Juni 2007. Target penelusuran hingga pukul 02.00 lalu balik lagi dan naik dari jalur yang sama. Didalam gua terdapat sungai yang mana airnya cukup banyak. Terlihat dari jejak air, saat banjir bisa hingga ke langit langit gua. Sangat penting melakukan survey cuaca dan lokasi sebelum penelusuran gua untuk menghindari kecelakaan banjir di dalam gua. Penelusuran melewati sungai kira kira satu jam hingga air sungai masuk rekahan ke bawah.


Kami melanjutkan penelusuran hingga jam 2 kami beristirahat. Saat saya mengecek jalan di depan ternyata masih ada percabangan. Namun sesuai dengan Rencana Oprasional (ROP) pukul 02.00 kami harus tetap kembali dan tidak melanjutkan penelusuran. Kami sampai dibawah lintasan sekitar pukul 03.00. Orang pertama naik dan berakhir hingga orang terakhir pukul 06.00. Setelah cleaning di lokasi selesai kami melanjutkan perjalanan menuju air terjun untuk mencuci alat-alat. Pukul 14.30 selesai makan siang dan packing kami pun bersiap-siap menuju Bandung kembali.

Perjalanan panjang dan melelahkan 14-30 Juni 2007 akhirnya berakhir. Boleh dibilang saya bangga dengan kondisi fisik saya yang bisa melakukan semuanyadengan baik. Meskipun sempat diare dan muntah tapi saya senang dan bangga dengan kegiatan ini, kegiatan bersama dengan alam.

-The end-

14-30 Juni 2007-Part III (caving-mountaineering-rock climbing)



Part III : Rock Climbing, Tebing 48, Citatah, Padalarang, Jawa Barat

22 Juni 2007,
Sekitar pukul 13.00 saya dan sapi sampai di tebing 48. Pukul 13.30 saya naik di jalur top rope untuk standby di top untuk mengawasi anak-anak KA yang bergantian memanjat ke top. Setiba di top, saya bertugas mendampingi mereka untuk melakukan rappeling.

Top Rope

Rappeling
Waktu sudah menunjukkan pukul 18.00 dan hari sudah mulai gelap. Saya mendapatkan instruksi untuk segera turun dan cleaning. Karena hari sudah sangat gelap, sebenarnya cleaning cukup rawan untuk dilakukan namun saya tetap memutuskan untuk tetap cleaning, toh sudah ada headlamp dan terang bulan yang remang-remang. Sekedar saran bila ada yang mengalami kejadian yang sama, sebaiknya cleaning dilakukan besok pagi saja, selain lebih secure, juga lebih baik untuk psikologi dan kesehatan mata. Tapi berhubung waktu itu saya lagi diatas jadi sekalian saya tuntaskan saja. Inti yang terpenting adalah, tetap safetey procedure dijalankan.

23 Juni 2007,
Materi pendidikan hari kedua adalah artificial dan SAR.

Vertical Rescue
Pukul 15.00 saya melihat masih ada beberapa sisa nasi bungkus tadi siang. Karena merasa sayang, nasi tersebut saya makan bersama anak-anak yang lain yang sedang beristirahat. Setelah makan perutku terasa aneh, mendadak kembung dan masuk angin. Tapi saat itu saya masih merasa biasa saja, dan beranggapan akan segera sembuh. Mungkin ada 100 x saya bersendawa dan kentut tapi perut tetap saja kembung. Saat saya masih berjuang untuk terus berusaha membuang angin dari atas dan bawah sebanyak banyaknya, saya dipanggil untuk manjat di jalur 10. Sudah hampir 3 tahun saya tidak memanjat di jalur ini, jadi akhirnya saya pun mencoba manjat lagi di jalur 10. Ternyata kemampuan manjat saya masih bagus, bisa sampai pada runner terakhir yang dipasang.

Base Camp
Semua materi telah selesai dan kami pun packing dan berdoa untuk perjalanan pulang ke Bandung. Mungkin waktu itu saya lupa berdoa untuk kesehatan perut, jadinya pada saat perjalanan naek motor, perut itu melilit sakit sekali. Badan saya sampai keringat dingin, bunyi perut sudah tidak karuan, akhirnya saya meminta Sapi untuk berhenti di pom bensin dan mengeluarkan isi perut yang dari tadi sudah berontak ingin keluar. Rasanya sangat puas, bahkan boleh dibilang sungguh nikmat. Dunia terlihat lebih indah dan bersinar. Sungguh tidak rugi membaryar 1000 perak untuk toilet itu. Mungkin ini lah 1000 perak pertama yang sangat bahagia saya berikan ke petugas penjaga toilet.

Setelah box box tadi kupikir sakit perutku akan hilang, ternyata masih ada, bahkan lebih parah hingga ingin muntah. Saya menahan diri dengan susah payah agar tidak bocor atas dan bawah selama perjalanan. Setiba di kosan saya kembali nyetor berkali kali. Rasanya tenaga ini sangat terkuras. Bahkan saya akhirnya jackpot untuk yang pertam kalinya sejak muntah terakhir pada waktu SD. Semua makanan yang dimakan tadi pagi dan siang keluar semua dari mulut dan hidung, sangat menyakitkan rasanya. Badan terasa sangat lemah setelah muntah, dan saya saya terkapar dilantai kamar hingga jam 00.00. Saya terbangun untuk mandi karena merasa sangat kotor karena belum mandi 2 hari sejak kegiatan di Citatah.

14-30 Juni 2007-Part II (caving-mountaineering-rock climbing)


Part II : Mountaineering, Gunung Merbabu, Wekas, Jawa Tengah

Next destination : Yogyakarta
18 Juni 2007,
Belum hilang capek dari caving kemarin, saya menguatkan diri untuk mencuci alat yang kotor, mulai dari tali, webbing, sling, karabiner, srt set pada pagi hari. Setelah semua alat saya cuci dan jemur, saya langsung menuju kosan untuk makan siang dan tidur (terkapar) hingga waktu menunjukkan pukul 16.00. Karena sudah ada janji untuk mendaki Gunung Merbabu dengan kawan-kawan dari Mapasadha, saya pun bersiap-siap untuk packing lagi. Saya kembali harus mencuci baju kerena baju tersebut sudah saya rendam dan bila saya tinggalkan ke Yogyakarta pasti baju tersebut akan busuk. Selepas selesai mencuci, saya langsung bergerak kembali ke sekre untuk membereskan alat-alat yang tadi dijemur. Seluruh pekerjaan selesai kira-kira pukul 18.00. Saya kembali harus ke kost dan membereskan packingan. Setelah kuanggap semua beres, saya menuju kosan teman (Ical) yang akan mengantarkan saya ke stasiun Kircon menuju Jogja.

Inilah pertama kalinya dalam sejarah saya naik kereta ekonomi sendirian. Semua ini harus saya lakukan karena sudah berjanji akan ke Jogja tanggal 18 Juni untuk melakukan pendakian bersama rekan-rekan dari Mapashada, Universitas Sanatadharma, Yogyakarta, maka saya harus menepatinya. Kurang lebih 11 jam dikereta akhirnya saya menginjakkan kaki di lagi di Yogyakarta.

19 - 20 Juni 2007,
Setelah mandi dan tidur hingga pukul 15.00, saya kembali packing untuk siap-siap menuju Wekas, jalur pendakian Gn. Merbabu. Ini adalah kali ke dua saya mendaki Gn Merbabu. Sebelumnya saya menggunakan jalur Selo, rute pendakian yang paling populer. Rencananya saya akan melakukan pendakian Gn. Merbabu bersama rekan-rekan dari Mapasadha untuk pendakian umum SMU Vanlith yang berjumlah sekitar 100 orang. Dua hari, tepatnya tanggal 19-20 Juni kami melakukan pendakian. Cuaca waktu itu cukup jelek, berkabut, awan tebal dan gerimis, sehingga pendakian ini tidak memberikan banyak kesan indah buatku. Namun karena sebelumnya saya sudah pernah mendaki Gn Merbabu dengan cuaca yang cerah dan meninggalkan kesan indah dalam memory otakku, maka hal ini tidak begitu merisaukanku. Kami turun dari Gn. Merbabu, sekitar pukul 15.00 dan sampai ke Basecamp rumah pak Setiyoso. Pukul 16.00 kami pulang menuju Jogja.

21 Juni 2007, saya kembali ke Bandung. Sebenarnya sangat lelah dan ingin beristirahat sejenak di Jogja, namun mengingat saya masih punya tugas untuk membatu pelaksanaan pendidikan lanjut Rock Climbing anak KA, maka dengan kekuatan bulan...tanggal 22 Juni, saya sudah berada di Bandung untuk melakukan persiapan dan perjalanan kembali ke tebing 48 Citatah, Padalarang. Team diklan RC berangkat pada sore namun karena kondisi yang cukup lelah, saya memutuskan untuk beristirahat sehari dan menyusul ke lokasi besok pagi naik motor.