Rabu, 11 Desember 2013

Tuhan itu Baik Sekali

Merupakan bagian dari perjalanan kehidupan saya, dibawah ini adalah salah satu titik balik dari perjalanan rohani dan keimanan saya. Tidak ada cerita tentang perjalanan pada suatu tempat, tidak ada cerita tentang petualangan menjelajahi daerah baru. Sebab selain perjalanan-perjalanan tersebut, saya juga ingin berbagi cerita mengenai perjalanan keimanan saya. Suka atau tidak, sebuah kehidupan itu akan menjadi sangat baik bila seimbang. Segala keindahan ini adalah ciptaan Tuhan, maka sebuah cerita mengenai perjalanan keimanan ini adalah bentuk keseimbangan dari kehidupan yang kita miliki. Maka dari itu saya yakin, posting ini tetaplah sejalan dengan tema blog saya, "Jejak Perjalanan".

Saya sadar bahwa saya bukanlah penganut Katolik yang taat. Terkadang saya tidak ke gereja ataupun lupa berdoa dikala sedang sibuk atau bersenang-senang. Tak jarang saya tidak mengikuti ajaran yang diajarkan oleh Yesus Kristus yaitu cinta kasih. Tuhan mengajarkan kita untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan ataupun membenci, namun sebagai manusia hal itu sangatlah sulit untuk dilaksanakan. Ajaran-Nya sangat jelas, akanlah sangat mudah bagi kita berbuat baik kepada orang yang juga berbuat baik pada kita, namun disini yang diharapkan adalah kita berbuat baik untuk semua orang sama seperti kita memperlakukan diri kita sendiri.

Tuhan Yesus sungguh sangat baik dalam menyertai saya dalam kehidupan ini. Dia selalu ada dan setia mendampingiku tidak pernah meninggalkanku. Bahkan disaat saya melupakanNya, Tuhan Yesus tidak pernah. Hingga pada suatu saat saya tersadar, bahwa Ia selalu ada buatku tapi saya kerap kali mengacuhkanNya. Walaupun demikian berkat selalu Ia limpahkan untukku. Belum lama ini saya bertekad pada diri saya ingin berusaha sedikit demi sedikit mengikuti ajaran cinta kasih Yesus Kristus. Lebih banyak membantu orang yang membutuhkan, tersenyum dan meredam emosi. Awalnya sulit namun ternyata sangat besar dampak yang saya terima. Percaya atau tidak itu terserah anda yang membaca, namun saya bersaksi, sejak saya menerapkan apa yang diajarkan Kristus sebagaimana firman Tuhan tertulis, saya menerima lebih banyak kebaikan dari biasanya. Lebih banyak diberi kemudahan akan setiap masalah yang saya hadapi. Semua orang seakan membantu saya sebelum saya minta, atau bahkan sebelum saya berpikir bahwa saya memerlukan bantuan. Sungguh luar biasa.

Yang ingin saya sampaikan disini adalah, bahkan disaat kita berada dalam jalan yang salah, Tuhan senantiasa tetap membantu, apalagi bila kita berada di jalan-Nya. KeberadaanNya menjadi lebih nyata, hadirNya menjadi lebih terasa melalui orang-orang yang ada disekitar kita. Sedikit ada penyesalan mengapa hal ini baru saya sadari sekarang dan tidak dari dulu? Namun saya sangat bersyukur bisa menyadari hal ini saat saya masih hidup di dunia ini. Saya bersyukur bisa mengenalMu dan percaya walau tidak pernah melihatMu. Terima kasih Tuhan atas kebaikanMu. Semoga lebih banyak orang yang menyadari dan menerapkan ajaran cinta kasihMu, sehingga damai tercipta diantara kita semua. Amin.

Selasa, 10 September 2013

Sepenggal cerita dari sudut kota Jakarta

Seperti biasa setelah turun dari bus trans Jakarta saya berjalan kaki menuju kosan. Hari ini terlihat cukup suram untukku sebab sudah satu minggu asma yang sedang kambuh tambah banyak tingkah. Saya berjalan menyusuri trotoar dari halte dukuh atas 1 menuju setiabudi daerah kosan saya. Tiba-tiba seseorang menegur saya dari atas motor yang sedang melaju lambat di pinggir jalan,

"Naik ojek saja dek.."

Saya melihat seorang bapak, dan tidak tertarik untuk menjawab tawaran tersebut. Saya hanya memberi kerutan di dahi dengan tatapan mata tajam ke arah bapak itu. Jelas saat itu saya tidak tahu apa yang sedang terjadi. Saya memberikan tatapan terjutek yang saya miliki yang biasanya manjur mengusir orang yang tidak ingin saya ajak ngobrol. Tapi bapak tersebut tidak gentar,

"Naik ojek saja dek, saya sekalian pulang, dari pada kosong. Berapa saja dek gpp"

Saya masih tidak mengerti dengan pembicaraan yang berusaha dibangun oleh bapak ini. Jelas dia ingin menawarkan jasa ojek, namun saya masih tidak mengerti mengapa ada orang yang menawarkan jasa ojek sperti ini. Karena saya penasaran maka saya pun akhirnya berkata pada bapak itu,

"Setiabudi ya pak, 5ribu"

"Berapa?"

"5 ribu" 

Harapannya sih si bapak segera mundur, mana ada ojek di Jakarta mau dibayar 5 ribu. Tapi diluar dugaan jawaban bapak itu,

"Ayo dek"

Saat itu saya masih belum mengerti betul apa yang saya lakukan ini. Sedikit saya berpikir apakah ini modus penipuan, perampokan atau penculikan baru? Namun menurut hasil kalkulasi saya beberapa detik sebelum naik ojek, bapak tersebut tidak akan mungkin punya kesempatan untuk menipu, merampok atau menculik, maka saya pun naik ke boncengan ojek bapak itu.

Ternyata bapak tersebut kerja di Menara Duta dan tinggal di Pasar Minggu. Setiap hari sepulang kantor dalam perjalanan pulang bapak itu menawarkan jasa ojek kepada para pejalan kaki secara random dengan tarif suka rela. Bapak tersebut menceritakan bahwa daripada dia pulang kosong, lebih baik dia menawarkan jasa ojek yang mana setiap hari dia bisa mengumpulkan sekitar 50 ribu. Sungguh takjub dengan usaha bapak tersebut, sangat efisien dan efektif dalam memanfaatkan waktu dan fasilitas yang dimilikinya.

Setelah mengantarkan saya di depan kosan, saya pun memberikan bayaran 5 ribu sesuai dengan kesepakatan awal. Saya memprediksi bahwa bapak tersebut akan muram saat saya benar hanya memberikan 5 ribu kepadanya. Bapak itu berkata sambil tersenyum sebelum menerima uang saya,

"Terima kasih dek, Tuhan memberkati"

Saya yang saat itu hanya memberikan uang tanpa tersenyum hanya dapat membalas bapak itu dengan berkata,

"sama-sama pak"

Seketika saya merasa malu sudah banyak berprasangka buruk kepada bapak yang baik hati itu. Kota Jakarta tidak melulu dipenuhi penipu, dan berbagai orang malas yang tidak puas dengan keadaan yang dimilikinya. Bapak itu menerima uang suka rela saya dengan penuh syukur dan terlihat sangat senang. Mungkin bapak itu menganggap saya sudah membantunya memberikan penghasilan tambahan untuknya hari ini, namun sebenarnya bapak tersebutlah yang telah menolong saya sangat banyak. Bapak itu seperti wujud perpanjangan tangan Tuhan yang ingin menolongku mengantarkanku ke kosan yang saat itu sedang over exhausted tapi keras kepala tetap ingin jalan kaki ke kosan. Bapak itu juga mengajarkan bagaimana kita harus selalu semangat, seperti dia yang setiap hari mencari peruntungan lain selain kerjaan dia sehari-hari di kantor. Pengalaman ini menolongku untuk belajar lebih bersyukur lagi setiap harinya. Terima kasih kepada bapak yang berwajah dan berhati baik. Pertemuan singkat ini mengajarkanku banyak hal baru dari salah satu sudut kota ini.

Tuhan memberkati bapak dan sekeluarga.

Sabtu, 27 Juli 2013

Kepulauan Seribu, Pantai – Pantai Menawan di Seberang Jakarta


Ibu kota Negara RI, DKI Jakarta, merupakan kota metropolitan yang sangat padat dan sibuk setiap harinya. Kemacetan dan polusi menjadi makanan sehari-hari masyarakat di kota ini. Bagi orang yang baru pertama kali menginjakkan kaki di Jakarta, bisa jadi mereka tidak akan menyangka bahwa tak jauh dari kebisingan dan hiruk pikuk tersebut terhampar ratusan pulau yang memiliki pantai – pantai yang sangat menawan. Pulau – pulau tersebut membentuk gugusan kepulauan yang dikenal dengan nama kepulauan seribu. Kepulauan seribu sendiri merupakan kabupaten administrasi di DKI Jakarta. Meskipun dinamakan kepulauan seribu namun hanya terdapat sekitar 342 pulau di gugusan ini dan hanya beberapa pulau yang berpenghuni. Kepulauan ini terletak disebelah utara Jakarta dan tepat berhadapan dengan teluk Jakarta. (sumber)
Pulau Pramuka
Pulau Pramuka merupakan pusat pemerintahan dari kabupaten administrasi kepulauan seribu. Akses untuk mengunjungi kepulauan seribu dapat ditempuh melalui beberapa cara, yaitu Marina Ancol, Muara Angke, Tanjung Pasir dan Muara Baru. Beberapa kali mengunjungi kepulauan ini, saya baru pernah mencoba transportasi melalui Muara Angke dan Tanjung Pasir. Setahun yang lalu, tepatnya sekitar bulan February 2012 saya dan lima orang teman bertolak dari Bandung menuju dermaga Muara Angke, Jakarta Utara. Dua diantaranya adalah warga asing, Gunnar dan Allison, dimana kita biasa menyebutnya bule.  Gunnar adalah teman kuliah saya yang sedang mengikuti program pertukaran pelajar selama satu semester dari Jerman, sedangkan Allison berasal dari Amerika yang sedang melakukan magang terkait tugas akhirnya di Bali. Allison datang bersama teman saya yang juga adalah instruktur diving dari Bali. Kami berempat berencana ingin melihat keindahan bawah laut kepulauan seribu dengan menyelam sedangkan dua teman yang lain akan melakukan snorkeling.
Kapal Motor Pulau Pramuka
Diving dan Snorkeling daya tarik Kep. Seribu

Pemberangkatan kapal dari Muara Angke rutin setiap hari pada pukul 6 dan pukul 13.00. Sekitar tiga jam waktu yang kami perlukan untuk mencapai Pulau Pramuka dari Muara Angke. Sesampainya disana, telah menunggu seseorang yang menjemput kami ke penginapan. Jadi apabila hendak berlibur ke kepulauan seribu, terlebih dahulu memesan tempat penginapan atau memilih paket wisata disana. Wisatawan dapat memilih berbagai paket wisata yang disediakan ataupun hanya sekedar ingin menyewa penginapan. Paket tersebut biasanya berupa paket wisata mengunjungi beberapa pulau, makan makanan laut dan snorkeling. Terdapat pula paket diving, seperti yang saya ambil saat itu. Mayoritas rumah di Pulau Seribu dapat digunakan untuk disewakan kepada para wisatawan dan harganya sangat terjangkau.

Hamparan laut yang berwarna biru jernih menyambut para pengunjung yang baru turun dari kapal motor yang membawa kami. Terlihat jelas ikan-ikan berenang di pantai karena jernihnya air laut di pantai ini. Pulau Pramuka biasanya digunakan para pengunjung sebagai “base” dan dari sini dapat menggunakan kapal kecil untuk mengunjungi beberapa pulau yang lain dan mencari lokasi snorkeling maupun diving. Meskipun visibility saat penyelaman tidak sebaik di Bali, namun teman saya sangat menyukai liburannya di Kepulauan Seribu. Mereka tidak menyangka, disekitar kota metropolitan seperti Jakarta terdapat gugusan pulau yang memiliki pantai yang sangat eksotis. Ditambah lagi, biaya yang mereka keluarkan untuk menikmati paket menyelam sangat murah bila dibandingkan dengan Bali.

Keesokan harinya, setelah kami selesai melakukan penyelaman yang terakhir dan bersiap untuk kembali ke Jakarta, saya dan Gunnar menyempatkan diri untuk melihat tempat pembiakan tukik di Pulau Pramuka. Terdapat banyak sekali tukik yang bila sudah tiba waktunya akan dilepaskan kembali ke lautan.
Penangkaran Penyu Pulau Pramuka
Mungkin hanya dua hari yang kami habiskan di sana, namun keindahan kepulauan seribu akan selalu ada dalam ingatan kami, sehingga setiap waktu apabila ingin sedikit menjauh dari kemacetan, hiruk pikuk dan polusi kota Jakarta, berwisata ke Kepulauan Seribu adalah pilihan yang sangat menarik.

Foto - foto: Vonny Pinontoan (Penulis)


Minggu, 30 Juni 2013

Hello South Africa!

Rasanya sudah lama sekali saya tidak menyempatkan diri untuk menulis, sekiranya tulisan ini bisa menjadi penyegar otak dan jemari saya yang sudah lama tidak menulis.

Beberapa hari yang lalu saya mendapatkan kesempatan untuk menjadi panitia "The 5th Indonesia International Conference on Innovation, Entrepreneurship and Small Business" di Bandung tanggal 24-27 Juni 2013. Disana saya bertemu dua orang peserta, perempuan dan pria, yang berasal dari South Africa, meskipun demikian mereka berkulit putih dan merupakan keturunan Jerman. Mereka adalah sosok paruh baya yang sangat ramah. Saya sangat bersemangat menceritakan bahwa saya sangat ingin ke Africa dan mendaki gunung Kilimanjaro yang menjadi mimpi saya. Tak disangka, ibu paruh baya tersebut juga berkeinginan yang sama, sehingga kami pun bertukar kontak dan berharap suatu saat kami akan bertemu lagi, dan semoga itu di Kilimanjaro. 

Keesokan harinya ibu tersebut menghampiriku dan bertanya, 
"Vonny, will you join the tour tomorrow?"
"No, mam..I'm not going tomorrow"
"Owh, I have a jacket, a warm jacket, that I brought from South Africa and I want to give it to you if you want."
"I love to.." 
"Ok, then wait for me, I'll pick it up and brought here for you. You can use it when you climb Kilimanjaro"

Terharu dan senang sekali, Jacket yang diberikan adalah Jacket universitas, North-West University, Potchefstroom campus, Engineering Faculty. Seakan ada korelasi dengan background pendidikan saya yang juga berasal dari fakultas teknik. 

Belum berkesempatan ke Africa, dapet Jacket dari sana dulu, semoga semakin cepat mimpi untuk menyapa Uhuru menjadi kenyataan.

Minggu, 05 Agustus 2012

Manusia dan Tebing

Dengan dua motor bebek, empat orang bergerak dari sekretariat Astacala ke lokasi panjat tebing di Citatah, Sabtu 28 April 2012. Tebing 125, demikian namanya dikenal dikalangan para pemanjat. Tebing ini merupakan kawasan karst di wilayah Citatah, Padalarang, Jawa Barat.  Selain menggunakan kendaraan pribadi, lokasi ini dapat kita capai dengan menggunakan bus jurusan padalarang, harganya sangat terjangkau, cukup Rp. 5 ribu kita sudah dapat menikmati perjalanan yang biasanya ditembuh sekitar 1.5 jam dengan bus ber-AC. Apabila menggunakan bus biasa tanpa AC, harganya Rp. 3 ribu. 

Karena lokasinya yang mudah dijangkau, lokasi ini menjadi favorit dan tidak pernah sepi oleh penggiat panjat tebing. Tak hanya dari Bandung atau Jawa barat, terkadang juga terdapat beberapa pemanjat dari luar daerah. Malam itu kami sampai sekitar pukul 9 malam, setelah sempat diguyur hujan deras yang memaksa kami harus berteduh di Cimahi. Disana terdapat dua saung yang cukup besar yang biasa ditempati para pemanjat melewati malam. Tidak banyak yang berubah dari kawasan ini, hanya saja jalan masuk ke lokasi tebing yang sudah digeser dan terdapat beberapa cerita mengenai konflik yang sedang terjadi antara para pecinta alam dan warga sekitar. 

Pabrik Marmer
Kawasan karst di Citatah sudah menjadi kawasan pengeboman sebagai bahan baku dari pabrik pembuatan marmer yang sangat besar. Kegiatan yang sudah berlangsung sekian lama ini membuat gunung karst di Citatah menjadi menipis setiap tahunnya. Dentuman bom kerap kami dengar berkali-kali, dan tibalah saat ini, saat tebing 125 juga akan dihancurkan. Hal ini tentu saja menjadi konflik yang alot antara para pecinta alam dan warga yang mencari nafkah di pabrik. Sebuah spanduk yang menolak penghancuran tebing dibentangkan, tertera nama kelompok pecinta alam yang menolaknya. Sesuatu hal yang ironis, sebab seharusnya alam tidak untuk diperebutkan. Alam haruslah menjadi penengah dan kebahagiaan bagi setiap manusia. Sikap manusia yang serakah dan egoislah yang kerap menjadikan alam sebagai ajang konflik tak berkesudahan.

Malam itu terasa sangat istimewa untukku. Sudah sangat lama sejak terakhir kali saya bermain ke tebing, mungkin ada sekitar 5 tahun yang lalu. Terdapat sebuah pabrik marmer dengan bongkahan marmer yang berserakan di halaman pabrik tepat dibawah saung yang kami tempati menjadikannya sebagai sumber penerangan tambahan selain lilin dan sinar bulan. Suara jangkrik menemani kami sepanjang malam dan suara tawa dari permainan poker malam ini seakan membawaku kembali ke masa lalu. Masa dimana saya belajar mengenal alam, masa dimana saya mengerti alam, dan masa dimana saya terhanyut akan keindahan alam liar. Memang, ini hanya di Citatah, yang masih sangat dekat dengan kota, namun sudah cukup menghibur kerinduan ini.

Bermain Poker
Materi pengenalan self rescue merupakan inti dari kegiatan kami kali ini. Self rescue merupakan materi untuk divisi peminatan Rock Climbing yang diikuti oleh Amin sebagai peserta, Babi sebagai instruktur, Arnan sebagai korban, dan saya sebenarnya cuma ingin jalan-jalan namun terjebak harus ikut membantu instruktur untuk materi. Ketika berjalan mendekati lokasi tebing panjat, saya melihat sudah sangat banyak pemanjat yang  memasang jalur. Ada yang dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) hingga Universitas Tarumanegara (UnTar), Jakarta. 

Instruktur - Rescuer - Korban 
Sebuah jalur artifisial sedang dibuat oleh seorang pemanjat wanita disebelah lokasi tempat kami memasang instalasi materi self rescue. Jalur ini sebenarnya adalah jalur yang umum digunakan dan merupakan jalur yang cukup mudah untuk pemula. Pemanjat ini menjadi menarik perhatian kami sebab selain karena jalur yang memang berseberangan langsung dengan lokasi kami, beberapa kali terdengar teriakan panduan dari rekan-rekannya di bawah dan juga dari puncak jalur pemanjatan. 

“Sling nya habis, tinggal satu” teriak si pemanjat wanita yang saat itu posisinya berada sekitar satu meter diatas sling runner terahir dan sekitar dua meter dibawah puncak jalur. Sebagai seorang pemanjat tebing, apa yang anda lakukan apabila pengaman anda habis beberapa meter di bawah puncak jalur? Sebagai seseorang yang sudah cukup lama (ehem..) menjadi penggiat di alam terbuka saya cuma akan memberikan tiga kata: "safety procedure first". Pikirkanlah apa yang menjadi safety procedure yang sudah kalian pelajari, itu yang harus dilakukan.

Suasana tebing 125
Tiba-tiba terlihat seseorang dari puncak jalur yang merupakan teman pemanjat menurunkan sebuah webbing kearah pemanjat. Webbing tersebut diraih oleh kedua tangan pemanjat wanita tersebut. Pemandangan yang cukup aneh, itu yang saya rasakan. Saya kemudian memutuskan untuk turun dari lokasi instalasi materi dan memastikan jalur tali aman dari bawah. Saat sedang berbincang dengan teman setim pemanjat, terdengar kepanikan dan seketika saat saya melihat kearah pemanjat, kepalanya sudah berada dibawah, satu meter dibawah sling runner terakhir. Pemanjat tersebut terjatuh, kepalanya membentur batu, namun dia masih sadar. Terlihat dia masih dapat menggerakkan leher dan matanya masih terbuka. Dia terjatuh sekitar 3 meter dari lokasi terakhir. Pemandangan ini terlihat sangat ironi. Masih teringat saat pemanjat ini meminta turun karena dia sudah kelelahan dan kehabisan sling pengaman namun tidak diindahkan oleh teman-temannya yang kerap menyemangatinya untuk menggapai puncak yang sebentar lagi dapat dia raih.

Pemanjat wanita itu berhasil di-rescue dengan selamat dan untungnya keadannya tidaklah parah. Disini saya tidak akan membahas bagaimana mereka me-rescue atau perbedaan apa yang cukup crucial dari teknik back-up belay ataupun teknik memanjat mereka. Saya hanya ingin berbagi kisah bahwa  kecelakaan saat bermain di alam adalah hal yang pasti dapat terjadi dan harus dapat  diantisipasi dengan sigap dan benar. Namun menghindari kecelakaan adalah hal yang lebih penting. Ini yang kadang diabaikan oleh para penggiat olahraga alam terbuka. Mereka mementingkan skill, gaya dan fun namun safety procedure kerap terabaikan. 

Beruntung saya besar dan belajar mengenal alam bersama Astacala, yang sangat mengedepankan safety procedure. Sebuah kegiatan tidak boleh dijalankan apabila safety procedure belum komplit. Persiapan yang matang dan cenderung lama karena harus memastikan semuanya aman itu lebih baik daripada bergerak cepat namun kemudian harus di-rescue. Yah kami masih menganut nasehat orang tua jaman dulu, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian, perisapan boleh lama agar kemudian senang sampai akhir.